Senyuman kehidupan

Jumat, Agustus 21, 2009

Implementasi Kurikulum: Sebuah Prinsip Dasar

Implementasi Kurikulum: Sebuah Prinsip Dasar

Oleh Imam Mawardi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, implementasi adalah pelaksanaan, penerapan: pertemuan kedua ini bermaksud mencari bentuk tentang hal yang disepakati dulu (Tim Penyusun 2005:427). Sedangkan menurut Susilo (2007:174) implementasi merupakan suatu penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai, dan sikap. Dalam Oxford Advance Learner Dictionary dikemukakan bahwa implementasi adalah “put something into effect” (penerapan sesuatu yang memberikan efek atau dampak).

Miller& Seller (1985) mendefinisikan kata implementasi dengan tiga pendekatan, yaitu : Pertama, implementasi didefinisikan sebagai kegiatan. Kedua, suatu usaha meningkatkan proses interaksi antara pengembang guru dengan guru. Ketiga, implementasi merupakan sesuatu yang terpisah dari komponen kurikulum.

Sedangkan pengertian kurikulum, diantaranya menurut Mcdonal (1965) menyatakan bahwa kurikulum sebagai rencana kegiatan untuk menuntun pengajaran. Kurikulum juga diartikan sebagai dokumen tertulis yang memuat rencana untuk pendidikan peserta didik selama belajar di sekolah (Beauchamp, 1981) atau sebagai rencana untuk membelajarkan peserta didik (Hilda Taba, 1962). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kurikulum adalah (1) perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan, (2) perangkat mata kuliah mengenai bidang keahlian khusus (Tim penyusun 2005:617). Ahli kurikulum lainnya Mauritz Johnson dalam Sukmadinata, kurikulum “Prescribes (or at least anticipates) the result of in struction” kurikulum merupakan suatu rencana pendidikan, memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup dan urutan isi serta proses pendidikan (Sukmadinata 2004:4). Jadi kurikulum adalah suatu rencana yang memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar mengajar.

Sedangkan menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (BSNP 2006:5).

Definisi lainnya adalah berkaitan dengan siklus kurikulum (curriculum cycle), seperti dikemuakan oleh Saylor dan Alexander (1974), mereka memandang proses pengajaran adalah sebagai implementasi, tepatnya adalah merupakan implementasi rencana kurikulum.

Berdasarkan definisi implementasi dan definisi kurikulum tersebut, maka implementasi kurikulum didefinisikan sebagai suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan kurikulum (kurikulum potensial) dalam suatu aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. (Susilo 2007:174-175). Juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum operasional dalam bentuk pembelajaran (Mulyasa 2006:246). Demikian juga sebagaimana dijelaskan oleh Saylor dan Alexander (1974) dalam Miller and Seller (1985: 246) implementasi kurikulum sebagai proses menerapkan rencana kurikulum (program) dalam bentuk pembelajaran, melibatkan interaksi siswa-guru dan dalam konteks persekolahan.

Implementasi kurikulum dalam lapangan pendidikan sebagai aspek terpenting dari pengembangan kurikulum, hal tersebut seperti apa yang dikemukakan oleh Leslie Bishop pada Ornstein (1993,297) yang mengemukakan bahwa: “The implementation requires restructuring and replacement”. It requires adjusting personal habit, ways of behaving, program emphases, learning spaces, existing curricula and schedules.

Dengan demikian implementasi kurikulum diharapkan akan membuat ”it means getting educators to shift from the current program to the new program, a modification that can be met with great resistance”.

Prinsip dan Dasar-Dasar Implementasi:
Untuk implementasi program dan proses terjadinya perubahan harus dilakukan berdasarkan perilaku dari semua pihak yang terkena dampak. Guru harus mampu menjelaskan mengenai tujuan, sifat, dan manfaat inovasi.
Kesuksesan implementasi kurikulum merupakan hasil dari perencanaan hati-hati. Proses perencanaan berdasarkan atas kebutuhan dan sumber daya yang diperlukan untuk melakukan tindakan yang dimaksudkan. Ia melibatkan penetapan dan penentuan cara untuk mengelola kebijakan yang akan mempengaruhi tindakan yang direncanakan. Implementasi memerlukan perencanaan, dan perencanaan terfokus pada tiga faktor: orang, program, dan proses. Dimana ketiga aspek tadi saling menunjang satu dengan yang lainnya. Skala prioritas pada satu aspek juga akan berdampak kepada aspek yg lainnya.
Implementalism, orang akan diubah, namun mereka juga takut terhadap perubahan, terutama jika ia datang dengan cepat atau jika mereka merasa bahwa mereka tidak memiliki kontrol atau pengaruh atasnya. Menjadi orang biasa dengan status quo dan memilih untuk melakukan modifikasi perilaku baru di dalam langkah kecil atau bertahap.
Karena implementasi tidak terjadi pada waktu yang sama dengan semua guru. Idealnya, proses implementasi memungkinkan waktu yang cukup untuk beberapa kelompok guru dalam mencoba kurikulum yang baru.
Komunikasi, ketika sebuah program baru sedang dirancang, saluran komunikasi harus terbuka agar program yang baru datang bukan sebagai kejutan. Sering mengadakan diskusi tentang sebuah program baru di kalangan guru, kepala sekolah, dan pekerja kurikulum adalah kunci implementasi yang sukses.
Dukungan, desainer kurikulum harus memberikan dukungan yang diperlukan untuk program yang direkomendasikan atau modifikasi program untuk memfasilitasi implementasi.

Pedoman yang harus diikuti untuk membuat implementasi yang berhasil sebagai suatu proses perubahan:
Inovasi dirancang untuk meningkatkan prestasi siswa
Inovasi yang berhasil memerlukan perubahan dalam struktur sekolah tradisional.
Inovasi harus diatur dan layak untuk semua guru.
Implementasi yang berhasil mengubah upaya-upaya organik daripada birokrasi;
Hindari, “do something, do anything” syndrome.

Dapat dicontohkan bahwa implementasi kurikulum berimplikasi terhadap serangkaian tuntutan yang harus dipenuhi oleh seorang guru dalam menjalan tugas keprofesionalannya. Dengan asumsi bahwa gurulah yang paling tahu mengenai tingkat perkembangan peserta didik, perbedaan perorangan (individual) siswa, daya serap, suasana dalam kegiatan pembelajaran, serta sarana dan sumber yang tersedia maka guru berwenang untuk menjabarkan dan mengembangkan kurikulum ke dalam silabus. Pengembangan ini hendaknya mendasarkan pada beberapa hal diantaranya: isi (konten), konsep, kecakapan / keterampilan, masalah, serta minat siswa. Guru perlu memahami prinsip-prinsip mengajar yang mengacu pada peningkatan kemampuan internal siswa. Peningkatan kemampuan ini misalnya dilakukan dengan menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa mampu mencapai kompetensi secara penuh, utuh dan kontekstual. Pentingnya peran guru dalam implementasi kurikulum ditegaskan juga oleh Lee (1996) serta Mars (1980) dan Syaodih (1988) di dalam Mulyasa (2003).

Peran guru dalam pembelajaran pada konteks KBK, menurut Sanjaya (2005), adalah sebagai: (1) fasilitator; (2) manajer; (3) demonstrator; (4) administrator; (5) motivator; (6) organisator; dan (7) evaluator. Sebagai fasilitator guru berperan untuk memudahkan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran, terutama dalam kaitannya dengan penggunaan media dan sumber belajar. Sebagai manajer pembelajaran guru berperan dalam menciptakan suasana / iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman, melalui pengelolaan kelas yang baik. Peran sebagai demonstrator dapat ditunjukkan dengan penampilan guru yang menjadi acuan bagi siswa. Sebagai administrator guru memungsikan penggunaan dokumentasi dan data siswa untuk keperluan pembinaan dan bimbingan. Sebagai organisator peran yang diharapkan pada guru dalam mengorganisasi siswa, baik secara kelompok maupun individual, sehingga tetap terjaga keharmonisan diantara siswa. Guru sebagai evaluator harus memilik kemampuan untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran pada masing-masing siswa dan kelompok siswa, serta mampu menggunakannya sebagai alat untuk penentuan tindak lanjut.

Sheldon (1981) mengidentifikasi sejumlah faktor yang berhubungan dengan implementasi suatu inovasi kurikulum. Nilai (value) personal dan profesional serta harapan guru terhadap kurikulum baru merupakan faktor yang paling menentukan terhadap keberhasilan inovasi.


Referensi Pendukung
John P. Miller, J.P. & Seller, W. 1985. Curriculum Perspective and Practice. Longman.Inc
Hamalik, Oemar. 1995. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
-----. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Konstekstual Panduan Bagi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Sebuah Panduan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Nasution, S. MA.2003. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.
Sugandi, Achmad. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK Unnes Press.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Susilo, Muhammad Joko, 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Senin, Juni 01, 2009

Cermin Episode Kehidupan (Catatan Ulang tahun Umi ke-27)

Cermin Episode Kehidupan
(Catatan Ulang tahun Umi ke-27)

By Abihan (Mawardy el-Razal)

Kehidupan senantiasa berjalan seiring kumparan waktu menuju titik kulminasi. Setiap jejak yang ditinggalkan dengan pernik-perniknya menjadikan romantika tersendiri yang mengiringi sebuah perjalanan hidup. Romantika akan menjadi sejarah hidup, bila dituliskan dan menjadi makna apabila setiap episode hidup dapat dijadikan pelajaran apapun bentuk pengalaman yang telah dilakukan, baik yang berupa pengalaman yang tidak membahagiakan maupun yang membahagiakan. Semua pengalaman sebagai pernik-pernik hidup, apapun bentuknya seharusnya menjadikan rasa syukur sebagai bentuk kedewasaan seiring usia yang bertambah. Karena hakekat takdir, kita tidak mengetahuinya, bisa jadi bertambahnya usia berarti berkurangnya usia. Apa yang seharusnya dilakukan sekarang sebagai bentuk kedewasaan itu sendiri, tidak lain adalah dengan selalu ridla menjalani dan meneruskan kehidupan apapun bentuk kehidupan itu sendiri.

Umi… , 2 Juni 2009 besok umi akan memasuki usia yang ke-27 tahun. Usia yang matang sebagai seorang ibu, sebuah kebanggaan sekaligus cita-cita tertinggi seorang perempuan. Bukan sekedar sebagai istri tetapi juga berkolaborasi integral sebagai seorang ibu bagi anak-anak. Tanggungjawab kehidupan semakin besar, tapi disinilah nikmatnya bisa berperan mengantarkan regenerasi peradaban manusia, sebagai pendamping, pengasuh sekaligus pendidik untuk mewariskan nilai-nilai yang seharusnnya diajarkan dengan kesadaran hati dan keterbukaan logika. Nilai akan menempus batas impian, sewaktu kesabaran dan keikhlasan untuk memberi yang terbaik sebatas kemampuan dalam berproses, bukan sekedar hasil yang menjadi tujuannya. Karena hasil dari proses yang kita lakukan kita serahkan sepenuhnya pada Allah Khaliqul Musawwir. Ini adalah bentuk ikhtiar sebuah kemampuan, agar terhindar dari sikap takabur yang menyesatkan.

Ulang tahun harus dimaknai sebagai refleksi muhasabah diri, bukan sebagai pesta. Tetapi tidak usah menyalakan orang lain yang dirayakan sebagai pesta dengan dalih sebagai bentuk rasa syukur. Karena kelurga kita harus mulai saat ini untuk menciptakan budaya sendiri, tidak harus sama dengan orang lain yang lagi trend, meskipun kita dianggap kampungan sekalipun, tidak mengapa. Anak-anak harus diberi kesadaran akan hal ini.

Episode-episode kehidupan telah umi jalani dan akan menuju episode kehidupan selanjutnya. Selama 6 tahun yang lalu (2003) umi telah berikrar menjalani kehidupan bersama abi, selama itu pula episode umi berintegrasi dengan episode kehidupan abi. Beberapa amanat yang menjadi tanggung jawab bersama harus menjadi prioritas. Anak-anak adalah amanat dari Allah swt yang dititipkan pada kita untuk didik menjadi hamba yang takwa. Semoga di setiap etape perjalanan kehidupan ini kita bisa menjaga amanat dengan sebaik-baiknya.

Umi… hari-hari yang membahagiakan adalah kebersamaan prinsip meski kadang harus berbeda, tapi bukan yang substansial. Keinginan menundukkan logika kenisbian dan menepiskan nafsu-nafsu menjadi jalan pencerahan hati.
Selamat ulang tahun umi, semoga hari-hari selalu bersemi dengan senyuman umi.

Bandung, 1 Juni 2009
Sandaran hati Abihan (Mawardi el-Razal)

Jumat, Mei 22, 2009

Belajar Ilmu Ikhlas

Belajar Ilmu Ikhlas
(Jawaban untuk abi)

Abi… maafkan umi, bukan maksud umi untuk mengeluh. Tetapi berbagi asa bagaimana seharusnya kehidupan yang harus kita jalani. Bukankah hidup ini harus berjalan seiring waktu menghitung usia, dan kita menjalaninya dan menikmatinya sebagai romantika yang indah apapun keadaannya.

Umi menyadari, meskipun sekarang agak pragmatis karena tuntutan yang mengharuskan demikian, tetapi nilai-nilai idealisme yang mulai kita bangun di awal-awal pernikahan, tidak harus kaya material dalam keluarga, tetapi kaya spiritual sebagai modal membangun peradaban dari keluarga harus tetap terjaga dengan baik, maka kita butuhkan ilmu untuk menjaganya. Nasehat-nasehat abi bagi umi adalah lautan ilmu, buku-buku yang abi belikan laksana mutiara yang memperkaya wawasan umi--- bagaimana memahami hal kecil dari diri sampai menemukan hakekat kehidupan.

Umi sadar, sebagai istri masih sering bertindak salah menuntut sesuatu diluar kemampuan abi. Sebagai ibu dari anak-anak umi sering emosional menghadapi kerewelan disaat-saat kelelahan aktifitas rumah tangga. Umi harus belajar lebih banyak tentang ilmu ikhlas dan makna kesabaran di setiap sisi kehidupan. Umi ingin menjadi istri yang saleha yang mendampingi abi dan mendidik anak-anak menjadi generasi yang salih.
Apapun keadaanya... kehidupan selalu berjalan di porosnya.
Salam cinta dari umi dan anak-anak untuk abi

Magelang, 22 Mei 2009

Senin, Mei 18, 2009

Merajut Benang yang Tersisa

Merajut Benang yang Tersisa
Catatan untuk ISTRIKU

By Abihan (Imam Mawardi)

Setiap kata … yang ingin abi tuturkan, pasti umi memahaminya. Sebelum fajar sisa kantuk tak menyisakan angan … ataukah harapan yang belum jua datang. Ini bukan cita-cita sebagaimana idealisme yang mulai kita bangun semenjak pernikahan. Meskipun banyak liku-liku hidup yang mengajak pada sikap pragmatisme, mestikah kita larut dalam arus yang kadang kita memungkiri hati nurani. Jangan katakan kita miskin kalau ukurannya hanyalah material belaka, karena sesungguhnya apa yang bisa kita perbuat dengan keikhlasan sesungguhnya disitu letak kekayaan kita.

Hari-hari yang selalu berganti dengan suasana yang sama, terasa membosankan, apalagi tanpa kehadiran abi seperti dulu untuk berbagi asa, memecahkan persoalan, menanggung beban bersama dan merasakan nikmatnya makna kebersamaan itu sendiri, meskipun tidak punya apa-apa. Umi pasti memahaminya, Abi tidak selamanya di sini… tugas belajar pasti berakhir dan kembali merajut hari-hari dengan kebersamaan kembali.
Persoalan yang utama, bukan masalah komunikasi… , bukankah sekarang kita selalu membangunnya dengan selalu menelpon—menanyakan kabar, bahkan kita membangun komunikasi hati, komunikasi do’a di setiap akhir malam dan setiap waktu dalam lapas ingatan kita untuk menyatukan asa. Tetapi, masalah keuangan… sebuah masalah yang sebenarnya bukan masalah kita saja, masalah banyak orang. Gaji abi yang umi terima tiap bulan, langsung habis bukan untuk konsumtif tapi untuk cicilan hutang rumah. Ini baru namanya kehidupan umi, harus berfikir menemukan cara yang terbaiik bagaimana mengelola rizki dan kehidupan secara bersama-sama.

“Modal kepercayaan”, bukankah ini yang selalu umi lakukan. Bersyukurlah karena kita masih dipercaya untuk bisa hutang. Bahkan umi dipercaya menjualkan barang-barang tetangga dengan bagi hasil hanya dengan modal kelihaian umi menawarkan barang, tentunya di sini tidak perlu malu, meskipun kadang hanyalah menjualkan tempe goreng. Setiap potensi harus disyukuri kemudian baru berfikir bagaimana mengembangkannya. Kita merasa malu karena kita berfikir tentang malu, padahal apa yang kita lakukan adalah sebuah kebenaran bukan sebuah penipuan. Disinilah harga diri akan diuji … sampai terasa nilai keberkahan merasuk di setiap sisi kehidupan.

Sudahlah… masa depan penuh keberkahan pasti kita raih, tanpa harus bertanya “kapan”. Dengan keihklasan, kesabaran, keuletan dan do’a, kita yakin Allah tidak akan membiarkan hambanya yang berusaha dengan kesusahan.

Bandung, 18 Mei 2009