Senyuman kehidupan

Kamis, Februari 28, 2008

RELASI DAN RELEVANSI ANTARA ILMU, FILSAFAT DAN AGAMA

RELASI DAN RELEVANSI ANTARA ILMU, FILSAFAT DAN AGAMA
Oleh Imam Mawardi
Jalan untuk mencari, menghampiri dan menemukan kebenaran dapat ditempuh dengan jalan, yaitu: ilmu, filsafat dan agama. Ketiga jalan ini mempunyai titik persamaan, titik perbedaan dan titik singgung yang satu terhadap yang lainnnya.
Ilmu Pengetahuan
Sebagai ilustrasi dikisahkan, bertanyalah seorang kawan kepada ahli filsafat yang arif dan bijaksana, “Bagaimana caranya agar saya mendapatkan pengetahuan yang benar?
“Mudah saja”, jawab filosof itu, “Ketahuilah apa yang kau tahu dan ketahuilah apa yang kau tidak tahu” (Jujun, 1990:19).
Dari ilustrasi ini dapat digambarkan bahwa pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu dan merupakan hasil proses dari usaha manusia. Beranjak dari pada pengetahuan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah pengetahuan, maka di dalam kehidupannya manusia dapat memiliki berbagai pengetahuan dan kebenaran.
Adapun--sebagaimana dikatakan Burhanuddin Salam (1995:5)--beberapa pengetahuan yang dimiliki manusia, yaitu:
1. Pengetahuan biasa atau common sense.
2. Pengetahuan ilmu atau science
3. Pengetahuan filsafat
4. Pengetahuan religi
Sedang ilmu pengetahuan sendiri mempunyai pengertian sebagai hasil usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistematika mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal ikhwal yang diselidiinya (alam, manusia, dan juga agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran manusia yang dibantu penginderaannya, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset dan experimental (Anshari, 1979:157).
Filsafat
Endang Saifuddin Anshari, MA (1979:157), mendefiniisikan filsafat sebagai hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami (mendalami dan menyelami) secara radikal dan integral hakikat sarwa yang ada: (a) Hakekat Tuhan; (b) hakekat alam semesta; (c) hakekat manusia; serta sikap manusia termasuk sebagai konsekwensi daripada faham (pemahamnnya) tersebut.
Hal yang menyebabkan manusia berfilsafat karena dirangsang oleh: ketakjuban, ketidakpuasan, hasrat bertanya, dan keraguan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang dialami manusia dalam kehidupannya (Rapar, 1996:16).
Untuk itulah dalam berfikir filsafat perlu dipahami karakteristik yang menyertainya, pertama, adalah sifat menyeluruh artinya seorang ilmuan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu sendiri, tetapi melihat hakekat ilmu dalam konstalasi pengetahuan yang lainnya, kedua, sifat mendasar, artinya bahwa seorang yang berfikirfilsafat tidak sekedar melihat ke atas, tapi juga mampu membongkar tempat berpijak secara fundamental, dan ciri ketiga, sifat spekulatif, bahwa untuk dapat mengambil suatu kebenaran kita perlu spekulasi. Dari serangkaian spekulasi ini kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari perjelajahan pengetahuan (Jujun, 1990:21-22)
Agama
Agama--pada umumnya-- merupakan (10 satu sistem credo (tata keimanan atau tata keyakinan) atas adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia; (20 satu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya mutlak itu; (3) satu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan (Anshari, 1979:158).
Agama berbeda dengan sains dan filsafat karena agama menekankan keterlibatan pribadi. Kemajuan spiritual manusia dapat diukur dengan tingginya nilai yang tak terbatas yang ia berikan kepada obyek yang ia sembah. Seseorang yang religius merasakan adanya kewajiban yang tak bersyarat terhadap zat yang ia anggap sebagai sumber yang tertinggi bagi kepribadian dan kebaikan.
Agama tak dapat dipisahkan dari bagian-bagian lain dari kehidupan manusia, jika ia merupakan reaksi terhadap keseluruhan wujud manusia terhadap loyalitasnya yang tertinggi. Sebaiknya, agama harus dapat dirasakan dan difikirkan: ia harus diyakini, dijelaskan dalam tindakan (Titus, 1987:414).
Titik Persamaan dan Perbedaan
Baik ilmu, filsafat ataupun agama bertujuan--sekurang-kurangnya berurusan dengan hal yang--sama yaitu kebenaran. Namun titik perbedaannya terletak pada sumbernya, ilmu dan filsafat berumur pada ra’yu (akal, budi, rasio, reason, nous, vede, vertand, vernunft) manusia. Sedangkan agama bersumberkan wahyu.
Di samping itu ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan (riset, research), pengalaman (empiri) dan percobaan (eksperimen) sebagai batu ujian. Filasafat menghampiri kebenaran dengan exploirasi akal budi secara radikal (mengakar); tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri bernama logika. Manusia mencari dan menemukan kebenaran dengan dan dalam agama dengan jalan mempertanyakan pelbagai masalah asasi dari atau kepada kitab suci.
Kebenaran ilmu pengetahuan adalah kebenaran positif (berlaku sampai dengan saat ini), kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif (dugaan yang tidak dapat dibuktikan secara empiri, riset dan eksperimental). Baik kebenaran ilmu maupun kebenaran filsafat kedua-duanya nisbi (relatif). Sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (absolut) karena agama adalah wahyu yang diturunkan Allah.
Baik ilmu maupun filsafat dimulai dengan sikap sanksi dan tidak percaya. Sedangkan agama dimulai dengan sikap percaya atau iman (Annshari, 1996:158-160).

DAFTAR PUSTAKA
Anshari, Endang Saifuddin, Ilmu, Filsafat dan Agama, Surabaya: Bina Ilmu, 1979.
Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, Jakarta: Bumi Aksara, cet. iii, 1995.
Butler, J. Donald, Four Philosophies and Their Practice in Education and Religion, New York: Horper and Brothers, 1951.
Inu kencana Syafi’i, Filsafat kehidupan (Prakata), Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
I.R. Poedjawijatna, Tahu dan Pengetahuan, Pengantar ke IImu dan Filsafat, Jakarta: Bina Aksara. 1987.
Jujun S. Sumiasumantri (ed), Ilmu dalam Prespektif, Jakarta: Gramedia, cet. 6, 1985.
----------, Filsafat Ilmu,Sebuah Pengantar Populer, Jakarata: Pustaka Sinar harapan, 1990.
Kneller, George F., Movement of Thought in Modern Education, New York: John Witey and Sound, 1984
Rapar, Jan Hendrik, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: kanisius, 1996
Richard Pratte, Conteporary Theories of Education, Scranton, N. J: Intext International Publisher, 1977.
Titus, Harold H., dkk., Living Issues in Philasophy, Terj. H. M. Rasyidi, Persoalan-Persoalan Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang, 1987.

Rabu, Februari 27, 2008

KEBENARAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU

KEBENARAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU
(Pendekatan Teoritik)
Oleh Imam Mawardi
Berbicara tentang kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.
Kriteria ilmiah dari suatu ilmu memang tidak dapat menjelaskan fakta dan realitas yang ada. Apalagi terhadap fakta dan kenyataan yang berada dalam lingkup religi ataupun yang metafisika dan mistik, ataupun yang non ilmiah lainnya. Di sinilah perlunya pengembangan sikap dan kepribadian yang mampu meletakkan manusia dalam dunianya.
Penegasan di atas dapat kita pahami karena apa yang disebut ilmu pengetahuan diletakkan dengan ukuran, pertama, pada dimensi fenomenalnya yaitu bahwa ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai masyarakat, sebagai proses dan sebagai produk. Kedua, pada dimensi strukturalnya, yaitu bahwa ilmu pengetahuan harus terstruktur atas komponen-komponen, obyek sasaran yang hendak diteliti (begenstand), yang diteliti atau dipertanyakan tanpa mengenal titik henti atas dasar motif dan tata cara tertentu, sedang hasil-hasil temuannya diletakkan dalam satu kesatuan sistem (Wibisono, 1982). Tampaknya anggapan yang kurang tepat mengenai apa yang disebut ilmiah telah mengakibatkan pandangan yang salah terhadap kebenaran ilmiah dan fungsinya bagi kehidupan manusia. Ilmiah atau tidak ilmiah kemudian dipergunakan orang untuk menolak atau menerima suatu produk pemikiran manusia.
Pengertian Kebenaran
Maksud dari hidup ini adalah untuk mencari kebenaran. Tentang kebenaran ini, Plato pernah berkata: “Apakah kebenaran itu? lalu pada waktu yang tak bersamaan, bahkan jauh belakangan Bradley menjawab; “Kebenaran itu adalah kenyataan”, tetapi bukanlah kenyataan (dos sollen) itu tidak selalu yang seharusnya (dos sein) terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidakbenaran (keburukan). Jadi ada 2 pengertian kebenaran, yaitu kebenaran yang berarti nyata-nyata terjadi di satu pihak, dan kebenaran dalam arti lawan dari keburukan (ketidakbenaran) (Syafi’i, 1995).
Dalam bahasan ini, makna “kebenaran” dibatasi pada kekhususan makna “kebenaran keilmuan (ilmiah)”. Kebenaran ini mutlak dan tidak sama atau pun langgeng, melainkan bersifat nisbi (relatif), sementara (tentatif) dan hanya merupakan pendekatan (Wilardo, 1985:238-239). Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan. Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral, tak bermuara, dapat melunturkan pengertian kebenaran sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran (Daldjoeni, 1985:235).
Selaras dengan Poedjawiyatna (1987:16) yang mengatakan bahwa persesuaian antara pengatahuan dan obyeknya itulah yang disebut kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang diketahui. Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif.
Meskipun demikian, apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran mungkin suatu saat akan hanya pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang lebih jati lagi dan demikian seterusnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan manusia yang transenden,dengan kata lain, keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Dari sini terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang trasenden, artinya tidak henti dari kebenaran itu terdapat diluar jangkauan manusia.
Teori-Teori kebenaran
Untuk menentukan kepercayaan dari sesuatu yang dianggap benar, para filosof bersandar kepada 3 cara untuk menguji kebenaran, yaitu koresponden (yakni persamaan dengan fakta), teori koherensi atau konsistensi, dan teori pragmatis.
Teori Korespondensi
Ujian kebenaran yang dinamakan teori korespondensi adalah paling diterima secara luas oleh kelompok realis. Menurut teori ini, kebenaran adalah kesetiaan kepada realita obyektif (fidelity to objective reality). Kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri, atau antara pertimbangan (judgement) dan situasi yang pertimbangan itu berusaha untuk melukiskan, karena kebenaran mempunyai hubungan erat dengan pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu (Titus, 1987:237).
Jadi, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut (Suriasumantri, 1990:57). Misalnya jika seorang mahasiswa mengatakan “kota Yogyakarta terletak di pulau Jawa” maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faktual, yakni kota Yogyakarta memang benar-benar berada di pulau Jawa. Sekiranya orang lain yang mengatakan bahwa “kota Yogyakarta berada di pulau Sumatra” maka pernnyataan itu adalah tidak benar sebab tidak terdapat obyek yang sesuai dengan pernyataan terebut. Dalam hal ini maka secara faktual “kota Yogyakarta bukan berada di pulau Sumatra melainkan di pulau Jawa”.
Menurut teori koresponden, ada atau tidaknya keyakinan tidak mempunyai hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan, oleh karena atau kekeliruan itu tergantung kepada kondisi yag sudah ditetapkan atau diingkari. Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta, maka pertimbangan ini benar, jika tidak, maka pertimbangan itu salah(Jujun, 1990:237).
Teori Koherensi
Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar (Jujun, 1990:55)., artinya pertimbangan adalah benar jika pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya, yaitu yang koheren menurut logika.
Misalnya, bila kita menganggap bahwa “semua manusia pasti akan mati” adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa “si Hasan seorang manusia dan si Hasan pasti akan mati” adalah benar pula, sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.
Seorang sarjana Barat A.C Ewing (1951:62) menulis tentang teori koherensi, ia mengatakan bahwa koherensi yang sempurna merupakan suatu idel yang tak dapat dicapai, akan tetapi pendapat-pendapat dapat dipertimbangkan menurut jaraknya dari ideal tersebut. Sebagaimana pendekatan dalam aritmatik, dimana pernyataan-pernyataan terjalin sangat teratur sehingga tiap pernyataan timbul dengan sendirinya dari pernyataan tanpa berkontradiksi dengan pernyataan-pernyataan lainnya. Jika kita menganggap bahwa 2+2=5, maka tanpa melakukan kesalahan lebih lanjut, dapat ditarik kesimpulan yang menyalahi tiap kebenaran aritmatik tentang angka apa saja.
Kelompok idealis, seperti Plato juga filosof-filosof modern seperti Hegel, Bradley dan Royce memperluas prinsip koherensi sehingga meliputi dunia; dengan begitu maka tiap-tiap pertimbangan yang benar dan tiap-tiap sistem kebenaran yang parsial bersifat terus menerus dengan keseluruhan realitas dan memperolah arti dari keseluruhan tersebut (Titus, 1987:239). Meskipun demikian perlu lebih dinyatakan dengan referensi kepada konsistensi faktual, yakni persetujuan antara suatu perkembangan dan suatu situasi lingkungan tertentu.
Teori Pragmatik
Teori pragmatik dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yangberjudul “How to Make Ideals Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. Ahli-ahli filasafat ini di antaranya adalah William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Hobart Mead (1863-1931) dan C.I. Lewis (Jujun, 1990:57)
Pragmatisme menantang segala otoritanianisme, intelektualisme dan rasionalisme. Bagi mereka ujian kebenaran adalah manfaat (utility), kemungkinan dikerjakan (workability) atau akibat yang memuaskan (Titus, 1987:241), Sehingga dapat dikatakan bahwa pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatis adalah logika pengamatan dimana kebenaran itu membawa manfaat bagi hidup praktis (Hadiwijono, 1980:130) dalam kehidupan manusia.
Kriteria pragmatisme juga diergunakan oleh ilmuan dalam menentukan kebenaran ilmiah dalam prespektif waktu. Secara historis pernyataan ilmiah yang sekarang dianggap benar suatu waktu mungkin tidak lagi demikian. Dihadapkan dengan masalah seperti ini maka ilmuan bersifat pragmatis selama pernyataan itu fungsional dan mempunyai kegunaan maka pernyataan itu dianggap benar, sekiranya pernyataan itu tidak lagi bersifat demikian, disebabkan perkembangan ilmu itu sendiri yang menghasilkan pernyataan baru, maka pernyataan itu ditinggalkan (Jujun, 1990:59), demikian seterusnya. Tetapi kriteria kebenaran cenderung menekankan satu atu lebih dati tiga pendekatan (1) yang benar adalah yang memuaskan keinginan kita, (2) yang benar adalah yang dapat dibuktikan dengan eksperimen, (3) yang benar adalah yang membantu dalam perjuangan hidup biologis. Oleh karena teori-teori kebenaran (koresponden, koherensi, dan pragmatisme) itu lebih bersifat saling menyempurnakan daripada saling bertentangan, maka teori tersebut dapat digabungkan dalam suatu definisi tentang kebenaran. kebenaran adalah persesuaian yang setia dari pertimbangan dan ide kita kepada fakta pengalaman atau kepada alam seperti adanya. Akan tetapi karena kita dengan situasi yang sebenarnya, maka dapat diujilah pertimbangan tersebut dengan konsistensinnya dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang kita anggap sah dan benar, atau kita uji dengan faidahnya dan akibat-akibatnya yang praktis (Titus, 1987:245).

DAFTAR PUSTAKA

Awing, A.C., The Fundamental Questions of Philosophy, London: Routledge and Kegan Paul, 1951.
Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, Jakarta: Bumi Aksara, cet. iii, 1995.
Butler, J. Donald, Four Philosophies and Their Practice in Education and Religion, New York: Horper and Brothers, 1951.
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat II, Yogyakarta: Kanisius, 1980.
Inu kencana Syafi’i, Filsafat kehidupan (Prakata), Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
I.R. Poedjawijatna, Tahu dan Pengetahuan, Pengantar ke IImu dan Filsafat, Jakarta: Bina Aksara. 1987.
Jujun S. Sumiasumantri (ed), Ilmu dalam Prespektif, Jakarta: Gramedia, cet. 6, 1985.
----------, Filsafat Ilmu,Sebuah Pengantar Populer, Jakarata: Pustaka Sinar harapan, 1990.
Kneller, George F., Movement of Thought in Modern Education, New York: John Witey and Sound, 1984
Koento Wibisono, Arti Perkemabangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte, Yogyakarta: Gadjah Mada Univercity Press, cet. ke 2, 1982.
-----------, Hubungan Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Budaya, makalah Pengantar kuliah Filsafat Ilmu, (t.t., t.tp.).
Rapar, Jan Hendrik, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: kanisius, 1996
Richard Pratte, Conteporary Theories of Education, Scranton, N. J: Intext International Publisher, 1977.
Titus, Harold H., dkk., Living Issues in Philasophy, Terj. H. M. Rasyidi, Persoalan-Persoalan Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang, 1987.

Rabu, Februari 20, 2008

CERMIN HATI

Cermin Hati
Oleh Imam Mawardi El-Razal

”…hati adalah cermin, tempat pahala dan dosa berpadu.” (Bimbo)

Hati menjadi sandaran ketulusan, keikhlasan, kesabaran dan tentunya juga cinta. Orang yang hatinya bersih selalu dapat menetramkan orang-orang disekitarnya, artinya dapat membawa kedamaian, kesejukan sekaligus kehangatan. Kalau seseorang hatinya bersih akan memancar cahaya diaura wajahnya, karena keikhlasan mampu mengikat kebencian dan melenturkan amarah. Tentunya harus melalui proses bagaimana seseorang akan menemukan inti kedamaian, tidak lain harus sering muhasabah dan tazkiyatun nafs. Sebagaimana firman Allah, ”.....Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram,” (Ar-Ra’d:28).

Hati sendiri dalam bahasa Arabnya disebutkan sebagai Al-qalbu, dengan makna al-lubbu yang artinya hati, isi, lubuk hati, jantung, inti. Al-Qalbu juga dapat dimaknai sebagi Al-aqlu yang artinya akal. Sedang Sidi Gazalba mendefinisikan bahwa hati bagian dari Akal. Karena akal menurutnya adalah perpaduan harmonis antara rasio dan rasa. Rasio landasannya adalah otak sedangkan rasa landasannya adalah hati.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, banyak membahas masalah hati. Menurutnya bahwa dalam diri manusia terdapat empat macam sifat, yaitu sabu’iyah (kebuasan), bahimiyah (kebinatangan), syaithaniyan (kesetanan), dan rabbaniyah (ketuhanan). Semua sifat itu berkumpul dalam hati. Masing-masing berebut pengaruh, tergantung manusianya sendiri, sifat mana yang akan dipilih untuk mewarnai dirinya. Jika sifat rabbaniyahnya berhasil mengalahkan dan mengendalikan ketiga nafsu yang lain, maka yang akan timbul adalah sifat-sifat yang baik, seperti iffah (menjaga diri), qana’ah (merasa cukup), istiqamah (konsisten), sakinah (tenang), zuhud (tidak suka dunia), wara’ (menjauhi perbuatan dosa dan syubhat), takwa, gembira, malu, jujur, berani, dermawan, suka menolong, sabar, tahan menderita dalam perjuangan hidup, memafkan, teguh pendirian, mulia, cerdas dan sebagainya.

Nabi saw bersabda, ”Hati itu ada empat, yaitu hati yang bersih, di dalamnya ada pelita yang bercahaya, maka itu adalah hati orang mukmin. Dan, hati yang hitam lagi terbalik maka itu adalah hati orang kafir, dan, hati yang tertutup yang terikat tutupnya maka itu adalah hati orang munafik serta hati yang dilapis yang di dalamnya ada iman dan nifak.” (HR Ahmad dan Thabrani)

Perbuatan seseorang dalam pergaulan sehari-hari akan menentukan gambaran hati orang tersebut sebagaiman teori cerminnya Al-Ghazali, hati ibarat cermin, kalau setiap hari dibersihkan dengan taubat dan amal shalih, hati akan gemilang dan akan sanggup memantulkan cahaya dengan baik, bahkan seseorang bisa melihat dinya sendiri dengan baik sehingga mampu mewujudkan nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupannya, sebagaimana pepatah Arab, ”man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu” siapa yang mengenal dirinya, maka sesungguhnya dia kan mengenal Tuhannya. Di samping itu pula perbuatan baik akan menambah jelas cermin hati, cahayanya dan cemerlangnya, sehingga kebenaran akan bersinar dalam hati. Kata Rasulullah, ”Apabila Allah menghendaki kebajikan kepada seseorang hamba, maka Dia akan menjadikan penasehat baginya dari hatinya.” (HR. Ad-Dailami).

Sebaliknya perbuatan jahat, jelek dan tercela akan memburamkan cermin dan menimbulkan kerak yang semakin lama akan sulit dibersihkan, sehingga hati tidak bisa lagi digunakan untuk bercermin dan mencari jawaban atas hakikat perbuatannya. Ia menjadi terhijab dari rahmat dan hidayah Allah.swt. Sebagaimana Allah berfirman,”Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya yang mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14). ”....kalau Kami menghendaki, tentu kami azab mereka karena dosa-dosanya dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran) lagi.’ (Al-A’raf:100)

Biar hati tidak terkunci mati, seseorang harus sering membersihkan kotoran dan noda yang menempel di hati. Jangan menunggu waktu, mulailah saat ini dengan istigfar dan menjalankan perintah Allah serta menjauhi segala yang dilarang-Nya. Karena kalau dosa-dosa kecil menjadi kebiasaan akan menggumpal menjadi dosa besar, dan apabila sudah menggumpal besar kebenaran akan jauh darinya, nasehat-nasehat kebajikan agama akan terpental tidak mempan lagi dan lagi tidak bisa bertanya kepada suara hatinya apabila sebuah permasalahan datang, serta sulit mengambil kesimpulan kebijaksanaan dalam memproses hidup sehingga tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri apalagi orang bvanyak. Sebab hati yang mati tertutup dari rahmat Allah swt. (mawardy)

Selasa, Februari 19, 2008

SEJENAK ..... istirah

Sejenak …..
Mawardy El Razal

Setiap peristiwa dari kehidupan ini, tidak lepas dari hukum alam. Apa yang kita perbuat selalu ada konsekwensinya, menyenangkan atau menggelisakan, membahagiakan atau menyedihkan. Dalam proses seperti itu, kepintaran, kepandaian, kematangan tidak akan bisa memberikan nuansa yang lebih berarti kecuali sekedar menghibur diri sejenak. Tetapi apa yang mampu bisa kita berikan pada kehidupan ini, senyum tulus dan keikhlasan yang menyertai pergaulan dan pemberian akan lebih berarti, meskipun kadang kita harus melepaskan suatu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kehidupan kita sendiri. Artinya ikatan emosional apa pun yang mengikat tradisi hidup kita tidak harus menjadikan kita terbelenggu dengan logika yang seakan-akan pasti terwujud. Misalnya perasaan hati, bagaimana mekanisme mengelolanya? Padahal selalu saja perasaan memberikan pertimbangan bukan logika. Mungkin ini penempatan yang salah kaprah. Ingat kapan logika berperan, dan bagaimana perasaan digunakan.

Dialektika kehidupan kalau kita fahami lebih jauh akan mengantarkan pada pilihan-pilihan, meskipun kita tahu bahwa ideal pilihan hanya ada dalam hayalan, misalnya pekerjaan yang mapan, istri yang cantik, suami yang ganteng, anak yang baik-baik dan seabrek keinginan lainnya yang seakan menjadi hantu dalam pemikiran dan perasaan kita tumplek bleg di dalamnya. Tetapi sungguh, persoalannya tampaknya bukan pada kenyataan pilihan yang harus kita jalani. Dalam perspektif keimanan, proses hidup yang digariskan-Nya untuk siapapun maklukNya adalah sempurna, di sini kita harus yakin. Namun yang menjadi persoalannya adalah ketiadaan keberanian moral untuk percaya dan yakin, bahwa semua kenyataan yang menekan jiwa dan membelenggu fikiran itu, pada dasarnya adalah baik, sayang kita tidak pernah tahu kadar dan ukuran makna baik dalam perspektif Tuhan. Sang Penyayang tampaknya ingin menyatakan bahwa bergantung kepada siapa pun dan apa pun yang berujud dalam ciptaanNya, adalah kesia-siaan belaka. Bergantung kepada kekuatan diri, kemampuan fikiran dan kepekaan perasaan pun hanyalah kekonyolan dialektika yang ujungnya kesesatan yang nyata, kalau tanpa dimbangi keyakinan akan kasih-sayang kebenaran Tuhan dam mengimplementasikan bentuk ikhtiar, yang di dalamnya ada tautan usaha, keyakinan diri dan doa harapan dan kepasrahan setelah apa yang telah diusahakan.

Hanya Allah sumber ketentraman, meskipun Allah menawarkan pilihan-pilihan (faalhama fujuraha wa taqwaha) dalam kehidupan kita, ada tawazun keseimbangan, kebahagiaan dan kekuatan yang sebenarnya. Seperti yang dikatakan Sufi Abdul Jabar Al-Nifari, Tuhan seperti berkata, ”Ketika kau merasa paling lemah diantara yang lemah..., tidakkah kau merasakan Cinta-Ku?” Demikain ada kesejukan tidak hanya dalam pengampunan tetapi jua dalam penyertaan kasih sayang ridla-Nya, di setiap aktifitas keseharian kita. Ada harapan.... dalam cinta-Nya.Dalam proses hidup, harapan harus diukir dalam sebentuk cahaya doa, ingatlah ketika Allah Sang Maha Cinta berfirman, ”Inna ma’al usri yusra, Sesungguhnya setelah/ bersama kesuliatan pasti bersama /diikuti kemudahan”.
Lantas, demikianlah; kompleksitas kehidupan harus mampu kita jalani dan kita baca, bagaimana dalam tangisan ada senyuman, bagaimana cara kita bekerja, bagaimana coloteh bahasa anak-anak, harus menjadi warna yang mengiringi nilai syukur kita. InsyaAllah..... demikian ini menjadikan kita mapan hati, lepas dari ketergantungan siapa pun dan apa pun nakluk-Nya. Kecuali kepada-Nya kita sandarkan ketergantungan itu sendiri, yang selalu jaga menyertai kita dan tidak membiarkan kita dalam keterpurukan. Bahkan Dia memberi ujian sebagai bentuk kasih sayang-Nya tidak lepas dari kekuatan kemampuan hamba-Nya. Inna shalati wanusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ’alamin Sesungguhnya shalatku, ibadah pejuanganku hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Sang Sandaran Hidup Tuhan penguasa semesta Alam. Amin.