Senyuman kehidupan

Sabtu, November 01, 2008

Ketika Ibu Menjadi Cita-Cita Tertinggi

Ketika Ibu Menjadi Cita-Cita Tertinggi
By Evin Yuniastutik (Umihan)

Apabila kamu berhasil menembus salju dan hujan juga hujan es, kamu tahu bahwa kamu mampu untuk berhasil dengan mudah ketika matahari terbit dan segalanya baik-baik saja.
Malcoim X


“Ketika pendidikan telah mengubah wajah dunia. Atas nama kebebasan, perempuan telah hilang kodrat “keempuannya” yang tinggal mungkin “empuknya” memoles alasan menjadi bahasa logika” demikian kata suami saya suatu ketika.

Menjadi ibu merupakan kodrat penciptaan yang tidak bisa ditawar lagi. Menjadi ibu merupakan karunia yang tidak ternilai harganya. Ibu adalah sejarah yang menciptakan generasi masa depan dengan sepenuh cita. Ibu adalah “bahasa” ketika seorang anak memanggil dengan cinta.

Suami saya pernah bertanya, “Apa cita-cita umi yang tertinggi? Menjadi Bidan delima yang professional? Menjadi PNS? Menjadi bisnismen? Atau menjadi ibu rumah tangga yang berperan seperti pembantu? Atau menjadi apa saja yang bisa mendatangkan uang banyak?”.

”Bidan Delima yang profesioanl”. Ini jawaban yang saya fikir cukup logis berhubungan dengan dunia akademik saya, karena sejak SPK sampai AKBID saya telah menggeluti dunia kesehatan dengan berbagai perniknya. Jawaban yang aku berikan memang sah-sah saja, kata suami saya. Kemudian beliau menjelaskan bahwa cita-cita yang tertinggi dari seorang perempuan adalah “menjadi ibu”. Jadi apa saja perempuan itu, Bidan, guru, dokter, menteri, presiden dll banyak sekali, tetapi kodratnya sebagai ibu harus dimunculkan. Karena perempuan telah dianugerahi rahim yang tidak dimiliki laki-laki. Rahim adalah symbol kasih sayang dan cinta kasih sesuai dengan makna bahasanya.

Akhirnya, atas jawaban ini saya bisa belajar memaknai hidup tentang keluarga, melayani suami, mendidik anak-anak adalah suatu kemerdekaan ekspresi puncak. Sesaat demi sesaat mentafakkuri waktu yang selalu menggelinding bersama tumbuh-kembangnya kedua putriku.

Kepada suamiku yang lagi belajar kehidupan di Bandung---semoga selalu setia membaca tulisan-tulisan umi--- umi dan anak-anak di Magelang selalu rindu abi, rindu nasehat-nasehat abi yang selalu menggugah semangat. Umi yakin doa-doa kita akan selalu berintegrasi melampaui jarak, menembus waktu dan mengikat iman dalam cinta.
Allah swt selalu bersama kita.

Bumi Gemilang Magelang, 1 November 2008

1 komentar:

ciwir mengatakan...

surga di telapak kaki ibu