Senyuman kehidupan

Rabu, Desember 23, 2009

Aku ingin menulis malam ini…. Menulis apa saja

Aku ingin menulis malam ini…. Menulis apa saja (1)
Mawardy el Razal


Bila huruf-huruf dirangkai menjadi kata dan susunan kata menjadi kalimat.
“Anak” adalah kata.
Bagaimana aku memanggilnya sebelum sempurna pengertian akan kata
Kita bermain di musim yang sama semenjak cahaya
merangkai sejuta kata yang berserakan di altar

Anakku bermain kata dengan puzel, ketika tak kupahami rasa yang menggigil
Merangkai sederetan kalimat yang tak berbunyi
Bahasa menjadi makna aku memahami
Ketika celoteh menjadi bahasa tersendiri, memanggil “Ibu”

Dari perspektif apa, keindahan panggilan mengisi fikiran yang bekerja
Atau mengisi perasaan yang bertapa sepanjang jalan merangkai kata cinta
Sekali lagi kata menjadi cinta
Dan doa menghias sepanjang perjalanan
Anakku, sebentar lagi engkau menjadi kalimat yang penuh makna
Di setiap celupan tinta “shibgha”Nya
Ada partikel cinta


Menulis lagi… (2)

Tak tampak nafas ini bercengkerama dengan nafsu
Ketika jemari merangkai gunung dalam fikiran yang melambung
Termenung menunggu di sini, kala kau janjikan perunggu
Menggoyang langka menuai kepastian jalan yang berkelok

Masihkah tidak kau pahami setiap kerikil menjadi gejala
Dari rasa yang terbius kata-kata
Menjadi mantra
Sebelum senja menghampiri


Menulis lagi dan lagi… (3)

Terakhir kata apa yang aku tuliskan dikeningmu
Mengurai mimpi saat kau berikan senyuman
Aku tak memahami
Dalam mengeja ayat-ayatNya

Menulis… tidak harus dimengerti

Bandung, 23 Desember 2009

Rabu, Oktober 14, 2009

Hari Masih Pagi… Membangun Rumah Cinta


Hari Masih Pagi… Membangun Rumah Cinta
By Imam Mawardi Rz


Hari masih pagi… ketika aku tuliskan kata-demi kata menjadi untaian kalimat sekedar menggambarkan pagi. Sisa hujan dalam renainya semalam menyublim embun-embun menjadi gelombung air di dedaunan dan menetes perlahan di depan rumah yang kubangun dengan cinta. Kabut mesti datang dari lembah Sumbing berarak mengintip mentari yang menyapa siapa-siapa saja yang terbangun sebelum subuh untuk mengurai berkah malaikat yang turun ke bumi mendoakan kebaikan.

Adalah sebuah harapan, ketika doa yang kutanam dalam fikiranku tumbuh menjadi motivasi nurani untuk selalu bergerak maju membawa sejarah masa depan. Padahal himpunan memori peristiwa selalu bertambah penuh warna menghiasi kehidupan yang berpacu dengan waktu. Ada yang hilang, ada yang remang-remang dan ada yang baru muncul seiring kedewasaan mencermati hidup.

Hari masih pagi… semangat harus selalu terbit seperti terbitnya matahari yang bertasbih. Semangat mengurai kehidupan menjadi legenda yang tak pernah berhenti mengiringi doa bersama langkah-langkah cita berproses dan selalu berproses membangun harapan sebuah nilai kebaikan dari yang kecil dan sederhana sampai yang kompleks penuh nuansa, yang penting keajegan (istiqomah) menjadi rutinitas belajar bagaimana mengemas rasa ikhlas dalam bingkai kesabaran hingga membentuk tradisi membangun kesempurnaan hati dan fikiran di ranah estafeta kehidupan.

Rumah yang kubangun dengan cinta, harus menjadi surga tempat persemaian cinta untuk mentradisikan cinta bagi istri dan anak-anakku. Rumah cinta adalah madrasah (sekolah) tempat belajar pernik-pernik tentang kebijaksanaan dan kearifan dalam keserhanaan hidup dengan cita rasa yang tinggi, bagaimana menghargai dan bagaimana menghormati. Rumah cinta adalah rumah hati sekaligus rumah fikiran dengan kejernihannya menafsirkan makna belajar hakekat hitam dan putih.

Gambaran pagi yang kutuliskan akan menjadi siang, kemudian sore dan lalu malam. Siklus kehidupan akan selalu bermetamorfosis dengan sempurna. Namun dari situlah kehidupan akan tetap diwarnai dengan berbagai macam warna oleh manusia, seperti pelangi yang hakekatnya adalah bias dari warna putih. Apa yang dicari dari hidup ini adalah melakukan kebaikan yang terbaik dari sebuah kemampuan yang ada. Iman adalah kuncinya, semakin kuat mengakar dalam hati, fikiran dan keseluruhan tubuh semakin jernih memandang dan memaknai kehidupan. Iman menjadi cinta…. Cinta di atas cinta.
Wallahu a’lamu bi shawab.

Magelang, 9 Oktober 2009

Senin, September 07, 2009

Catatan Tarawih... Sebuah Cerita

Catatan Tarawih... Sebuah Cerita
Imam Mawardi RZ

Menghitung waktu yang berjalan seirama bilangan Tarawih seindah Ramadlan tahun ini di Bandung, yang konon pernah menjadi lautan api (karena dasyatnya revolusi fisik perang melawan penjajah Belanda) dan juga lautan asmara (????). Bandung dengan berbagai julukan lautan (meski tak punya laut) bukanlah hal yang penting dipersoalkan pada kesempatan kali ini (kali lain boleh lah). Demikian juga tentang bilangan tarawih, ada yang 20+3 ada yang 8+3 semua ada dasarnya tergantung keyakinan yang dianutnya. Jadi tidak perlu dipersoalkan. Ya seperti dunia penelitian, ada yang lebih suka pendekatan kuantitatif dan ada yang lebih suka pendekatan kualitatif. Mana yang lebih valid? Tergantung alasan masing-masing. Barangkali yang duapuluh tiga rekaat pakai pendekatan kuantitif dan yang sebelas rekaat menggunakan pendekatan kualitatif (iya.. biasanya yang pake 23 cepat sekali seperti ngejar target dan yang 11 agak lama surat yang dibaca panjang-panjang dan jarang-jarang--- tapi fenomena baru entah dasarnya apa, para mahasiswa suka yang 11 tapi cepat... secepat kilat). Yang penting bagiku ada nilai khusuk dalam ibadah tarawih.

Ada beberapa cerita tentang pengalaman tarawih ini, bisa menjadi kisah kalau dituturtinularkan dan bisa menjadi sejarah kalau dituliskan. Tarawih pertama setiba di Bandung, sehabis ngabuburit mengembara sampai di masjid UPI mencari rizki buka bersama (dasar anak kos) dan jamaah maghrib di sana bersama Ustad Jack (bukan bang Jack dalam PPT tapi A. Zaki Mubarak) dan Azam (bukan tokoh KCB tapi singkatan nama panggilan dari Ade Zainul Muttaqin) kemudian menuju kosku untuk membantuku berbenah, maklum Aku baru pindahan di dekat kedua homo sapien (baca: manusia pinter) ini, biar ketularan pinter kata Hizbullah Huda (wong asal Lamongan tetangganya Amrozi) yang mencarikan kos baruku ini. Sempat diskusi tentang kasur dan hal-hal lain yang Aku sudah lupa. Oh ya, ada juga yang perlu diceritakan malam itu Jack bantu Aku ambil barang-barangku yang kutitipkan di rumah Nursaid (maaf ini bukan Nursaid yang diburu Densus 88, kebetulan namanya sama gak tau siapa yang meniru lebih duluan). Kita harus yakin kalau silaturahim mendatangkan rizki, demikian juga dirumah ini… ada suguhannya kan? So pasti. Cerita ngalor ngidul di blog ini, kapan cerita tarawihnya? Tenang saja kawan, kesimpulannya aku tarawih sendiri di kos menjelang tidur. Masalah Tarawihnya Jack dan Azam? Khusnudhan sajalah bahwa mereka adalah muslim yang taat.

Tarawih kedua lebih unik (uniknya dimana ya?), sehabis buka bersama dan shalat maghrib di DT (Darut Tauhid) ketemu Gus Muhson dan Gus Pat. Gus Muhson asal Kediri, Aku tidak tahu apa hubungannya Muhson dan Ghairu Muhson, mungkin masih saudara barangkali? (karena Aku hanya tahu bahwa nama itu seperti dalam istilah Fiqh). Gus Pat (Fatkhullah) adalah kyai besar Tambakberas Jombang (Aku tak berani komentar banyak tentang dia, takut kualat… Dia banyak khizibnya lho!). Mereka berdua satu kos beda kamar. Main ke kos mereka sangat menyenangkan, di samping banyak jajan juga guyonan khas mereka gaya pesantren. Tradisi sarungan, kopyah, sorban dan biji tasbih menjadi pelengkap kekhusukan mereka beribadah. Sedianya kami Tarawih di DT, tapi tiba-tiba kok gak jadi, sudah terlambat. Jadi, Jamaah sendiri di kos-kosan mereka, yang menjadi imam Gus Pat dengan 20 rekaat. Aku sendiri berhenti sampai bilangan 8 rekaat. Bukan karena apa, cuma prinsip saja. Bukankah perbedaan itu adalah rahmat asal perbedaan itu dipahami dengan sebaik-baiknya.

Hari selanjutnya, sampai cerita ditulis di blog ini, Aku ngabuburit sendiri bersama lalulalang manusia laki-laki perempuan, anak-anak, remaja, mahasiswa berbaur deru kendaraan hilir mudik mencari ta’jil berbuka sepanjang geger kalong. Suasana menjadi indah menyenangkan seperti kerinduan bertemu surga. Jarak kosku sekarang dengan DT agak jauh berbeda dengan tahun lalu yang dekat dengan DT, hal ini menjadikan Aku sekalian melaksanakan 3 in 1, yaitu berbuka, jamaah maghrib sekaligus tarawih, baru pulang ke kos. Banyak pelajaran dipetik di sini, tentang kesabaran, tentang keikhlasan dan ketulusan menggapai makna puasa dari apa yang Aku perhatikan di sini, dari para ustadz, para santri, dan para jamaah. Aku berdiri dengan nisbi, tiada artinya egoku yang penuh kesombongan akan dosa-dosa. Semut-semut yang berbaris seakan menertawakan kebodohan dan kedunguanku selama ini. Di sini aku belajar dari mereka tentang kesederhanaan…

Bandung, 7 September 2009

Kamis, September 03, 2009

Berkah Ramadlan

Berkah Ramadlan

Imam Maawardi

Suasana Ramadlan di Bandung saat ini menjadi pengalaman yang menarik dari sebuah episode pendidikan yang sedang Aku jalani. Datang dengan semangat back to campus mengeja setiap huruf-haruf yang beterbangan seperti kunang-kunang yang hilir mudik di pelupuk mata. Ada kesan kesulitan untuk menapaki tujuan ranah belajar, tapi sebuah proses apapun bentuknya adalah sebuah dinamika yang naïf untuk diabaikan. Belajar inilah proses yang tak pernah berhenti, meskipun ada maqam-maqam pemberhentian untuk evaluasi sebelum berproses melanjutkan lagi. Menapaki waktu dengan keterbatasan financial bukanlah alasan Aku berhenti, atau lelah berfikir bukanlah alasan Aku gagal. Meski hidup berpacu dengan waktu, beberapa even kompetisi saling menyerang untuk pembenaran sendiri-sendiri, namun kualitas diri bukanlah hasil kompetisi tapi kompetensi untuk bertindak bijaksana tanpa harus bertanya mengapa. Keberhasilan adalah kemampuan bertindak arif dan hidup penuh manfaat, andaikan gagal pun setidaknya gagal dalam kebaikan.

Madrasah Ramadlan telah mendidik hidup berproses dalam rantai pendidikan yang sambung menyambung tak mengenal titik akhir untuk selalu belajar. Dimulai dengan niat yang ikhlas, dijalani dengan sabar dan penuh tawakkal, dan menghiasi hari-hari dengan amal kebajikan dimanapun, kapanpun, dan untuk apapun kebajikan ditujukan. Taqwa menjadi primadona sebuah derajat yang indah, bagi siapapun yang membaca Ramadlan dengan sepenuh hati. Di Ramadlan inilah proses belajar mencari bentuk yang terbaik. Seperti asal permata, batu granit legam lewat proses yang lama, dengan gesekan-gesekan sehingga menimbulkan panas bisa menjadi batu yang indah berwarna-warni dan sangat kuat, apabila dinjak sepatu kaca, bukannya permata itu yang hancur tapi justru sepatu kaca itu yang hancur. Maka Ramadlan adalah “kawah” tempat penggemblengan diri menjadi manusia yang sempurna setidaknya manusia yang baik, yang bermanfaat bagi kehidupan.

Aku masih berdiri, ternyata belum selesai mengeja huruf-huruf yang lama-kelamaan kabur tapi membentuk siluet pelangi. Begitu kesadaran kosmos memberi kunci-kunci seperti ilham menafsirkan huruf-huruf yang kabur membuka rahasiaNya menjadi rangkaian tulisan kehidupan. Tidak ada kata yang lebih baik kecuali berproses dalam situasi belajar dan selalu belajar. Mengeluh tidak menyelesaikan masalah. Meski dengan keterbatasan, memompa niat dengan keihklasan penuh dan kesabaran yang prima serta istiqomah selalu dijalanNya. Insyaallah dengan keyakinan yang teguh, kunci-kunci rahasiaNya akan diberikan. Bukankah selama ini setiap persoalan yang Aku alami selalu terpecahkan, Maha besar Allah, kepada-Mu segala puji atas rahmat dan hidayah dan pertolonganMu.

Ramadlan selalu memberikan keberkahan yang menghiasi kehidupanku dan keluargaku.

Bandung, 3 September 2009

Jumat, Agustus 21, 2009

Menyambut Ramadlan 1430 H

Menyambut Ramadlan 1430 H
Imam Mawardi

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (2:183)


Ramadlan merupakan sebuah bulan yang agung, penuh barokah, ladang amal dan masih banyak lagi julukan yang disandarkan pada bulan ini. Setiap apa yang kita lakukan yang mengandung nilai kebaikan dan kemanfaatan akan dilipatgandakan pahalanya, baik pahala di akhirat kelak maupun keberkahan dalam hidup di dunia saat ini. Pada bulan ini diwajibkan bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah puasa, dalam rangka untuk membentuk jiwa keagamaan dan sarana pendidikan meningkatkan kualitas diri menjadi hamba yang bertakwa.

Takwa merupakan tujuan tertinggi dari ibadah puasa. Menurut cak Nur, “Takwa adalah kesejajaran “iman” dan “tali hubungan dengan Allah”, jadi merupakan dimensi vertikal hidup yang benar. Sebab dari semua ibadah, puasa ibadat yang paling pribadi, tanpa kemungkinan bagi orang lain untuk dapat sepenuhnya melihat, mengetahui dan apalagi menilai. Sebuah hadits Qudsi menerangkan firman Allah, ‘Puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang menanggung pahalanya”. Maksudnya pada dasarnya tidak ada yang tahu bahwa seseorang berpuasa selain Allah (dan dirinya sendiri). Allahlah yang bisa menentukan kualitas puasa seseorang dan Allah pulalah yang memberi pahala setiap hasil ibadah puasa seseorang.

Berbagai amalan wajib dan sunnah menjadi ladang amal yang mengisi bulan Ramadlan, antara lain di samping ibadah syaum (puasa) itu sendiri yang diwajibkan yaitu dengan menahan makan dan minum dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak fajar shodiq hingga terbenamnya matahari yang ditandai dengan datangnya waktu manghrib. Ibadah sunnah yang mengiringi ibadah syaum termasuk menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur, shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an dan masih banyak lagi amalan sunnah lainnya. Pada bulan ini juga umat Islam diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah bagi yang mampu sebagai bentuk ibadah sosial dalam rangka penyucian diri untuk menyempurnakan ibadah puasa.

Pada bulan Ramadlan ini juga Al-Qur’an yang menjadi pedoman utama umat Islam diturunkan (Nuzulul Qur’an), yang diperingati setiap tanggal 17 Ramadlan. Dan di sepuluh hari terakhir umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak iktikaf dan ibadah-ibadah yang lain untuk mendapatkan kesempatan menemukan malam Laitalul Qodar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana digambarkan Allah swt dalam surat Al-Qodar 1-5: Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Oleh sebab itulah dari berbagai ibadah dalam Islam, puasa di bulan Ramadlan merupakan ibadah wajib yang paling membekas pada jiwa seorang Muslim. Laksana sebuah madrasah (sekolah), Ramadlan adalah sebuah proses transformasi pendidikan yang lengkap baik secara ruhiyah, mental, jasmani maupun sosial secara integral menempah umat Muslim sebulan penuh, sehingga output maupun outcome-nya diharapkan menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa.

Hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi Ramadlan yang mubarak ini adalah pembersihan atau pencucian diri dari berbagai noda yang mengotori jiwa seperti kekhilafan-kekhilafan antara sesama manusia dengan saling maaf-memaafkan kepada kedua orangtua, saudara, tetangga, sahabat dll. Adapun pembersihan raga sebagaimana juga disunahkan untuk mandi besar (keramas) sebelum melaksanakan ibadah puasa. Pembersihan ini dimaksudkan untuk menghapus dosa-dosa dan kotoran-kotoran yang tersisa yang masih melekat di jiwa dan raga setiap Muslim yang akan menjalankan ibadah puasa. Makna pembersihan diri ini di Magelang dilambangkan secara simbolis dengan istilah “padusan”, namun terjadi reduksi makna sehingga seperti mempuas-puaskan diri sebelum puasa tiba dengan cara mandi bersama berbaur antara laki-laki dan perempuan di kolam renang yang sama dengan sajian hiburan dangdutan. Tak ayal lagi, bukan pencucian diri yang diharapkan dapat ditemukan, malah dosa kemaksiatan yang diperolehnya.

Marilah kita niatkan dengan kebeningan hati dan kejernihan fikiran untuk memperoleh keikhlasan totalitas mempersiapkan diri menghadapi dan menjalani Ramadlan dengan penuh suka cita, sehingga makna madrasah Ramadlan dapat kita peroleh dengan sebaik-baiknya yaitu derajat takwa. Semoga Allah memberikan kekuatan dan kesabaran dalam menjalani ibadah puasa sebulan penuh sebagaimana yang ditentukan-Nya.

Selamat menunaikan ibadah puasa 1430 H

Magelang, 21 Agustus 2009

Kaidah Dasar Fidelity Approach dalam Pembelajaran

Kaidah Dasar Fidelity Approach dalam Pembelajaran

Oleh Imam Mawardi


Fidelity sebagai model implementasi adalah cara pemberian instruksi dimana ia dirancang untuk diwujudkan (Gresham, Macmillan, Boebe-Frankenberger, & Bocian, 2000). Fidelity juga harus menunjukkan integritas dengan menyaring dan memantau kemajuan-prosedur yang lengkap dan sebuah keputusan eksplisit terhadap model yang diikuti. dalam suatu model RTI, fidelity adalah penting baik pada tingkat sekolah (misalnya, pelaksanaan proses) maupun pada tingkat guru (misalnya, petunjuk pelaksanaan dan pemantauan kemajuan).

Beberapa studi mengkonfirmasi pentingnya model fidelity sebagai implementasi program untuk memaksimalkan efektivitas (misalnya, Foorman & Moats, 2004; Foorman & Schatschneider, 2003; Gresham dkk., 2000; Kovaleski dkk., 1999; Telzrow, McNamara, & Hollinger, 2000; Vaughn, Hughes, Schamm, & Klingner, 1998). Meskipun studi ini dikaji dengan berbagai intervensi, hasilnya menunjukkan positif bahwa hasil siswa dapat dikaitkan dengan tiga faktor yang terkait:
1.Fidelity pelaksanaan proses (di tingkat sekolah)
2.Gelar untuk intervensi penyeleksian adalah didukung secara empirik
3.Fidelity dari intervensi implementasi (pada tingkat guru)

Meskipun kedua common sense dan penelitian mendukung konsep fidelity untuk memastikan pelaksanaan yang berhasil dari hasil intervensi, tantangan praktis yang terkait dengan target tingkat tinggi dari fidelity yang didokumentasikan. Gresham dkk. (2000) dan Reschly dan Gresham (2006) mencatat beberapa faktor yang dapat mengurangi fidelity dari implementasi - intervensi:
Kompleksitas. Lebih komplek intervensinya, lebih rendah fidelitynya karena tingkat kesulitan. (Faktor ini meliputi kebutuhan waktu untuk instruksi pada intervensi).
Bahan dan sumber daya diperlukan.
Perceiped dan efektivitas nyata (kredibilitas). Juga dengan satu dasar penelitian yang solid, kalau guru percaya bahwa pendekatan tidak akan efektif, atau jika tidak konsisten dengan gaya pengajaran mereka, mereka tidak akan dapat mengimplementasikan dengan baik..
Interventionists. Angka, keahlian, dan motivasi dari individu yang menyampaikan intervensi adalah faktor pada level implementasi fidelity

Karakteristik :
Kriteria fidelity ditetapkan pada waktu kegiatan evaluasi belum dilaksanakan (sejak awal) dan dikembangkan dari kurikulum itu sendiri (kriteria berasal dari kurikulum); tujuan, materi, proses, semua hal-hal yang diunggulkan dari suatu kurikulum yang dievaluasi

Pendekatan fidelity banyak digunakan karena berhubungan langsung dengan kurikulum yang dievaluasi dan hasilnya terasa terhadap kurikulum tersebut. Kosekuensi menggunakan pendekatan ini dalam hal menetapkan kriteria evaluator harus menguasai kurikulum tersebut dan memahami apa yang diinginkan oleh pengembang kurikulumnya

Kekuatan:

Hasil yang diberikan benar-benar dapat menggambarkan keadaan kurikulum itu sendiri. Informasi yang dikumpulkan evaluator langsung dapat digunakan oleh para pengambil keputusan

Kelemahan:

Evaluator tidak dapat membandingkan dua kurikulum atau lebih; hanya dapat melakukan evaluasi terhadap satu kurikulum saja

Contoh:
Ensuring Fidelity of Implementation

Teachers
Mengumpulkan langsung dan tidak langsung asessments yang dapat membantu menilai instruksi corrobo berdasarkan bahan tertulis atau manual.
Review ceklis yang ada dan secara manual untuk implementasi
implementasi perubahan yang diperlukan untuk pelajaran praktek (sebagai hasil dari cek fidelity)
Jika diminta, refleksi guru-guru
Meninjau fidelity dari implementasi hasil pengamatan dengan supervisor

Mentor Teachers/ School Coaches
Memantau kemajuan guru dalam memberikan pengajaran
Memberikan pengembangan professional, coaching, dan pelatihan
Melakukan observasi guru sesuai dengan jadwal dan menyertakan evaluasi berbasis instruksional praktis.
Mengevaluasi hasil observasi dan dikumpulkan untuk memberikan contoh pekerjaan yang bermakna dan member feedback bagi guru
Merespon permintaan guru untuk asistensi atau informasi

Administration
Memimpin upaya untuk menciptakan infrastruktur untuk fidelity kooperatif pada proses implementasi
Menyediakan sumber daya yang diperlukan termasuk akses ke kurikulum, kesempatan untuk berinteraksi dengan mentor/ coaches, dan materials dan peralatan lainnya
Melakukan observasi guru sesuai dengan jadwal dan menyertakan evaluasi berbasis instruksional praktis
Mengevaluasi hasil observasi dan dikumpulkan untuk memberikan contoh pekerjaan yang bermakna dan tanggapan khusus untuk guru
Memantau pendidikan khusus dan kinerja guru
Memastikan fidelity dari implementasi secara rutin, periodik, pengamatan, dan diskusi dengan staf
Diperlukan koordinasi pengembangan professional
Menentukan kapan / apakah ruang kelas menjamin kinerja intervensi (misalnya, seluruh performa kelas yang sangat rendah daripada kelas lainnya di level grade yang sama)

Implementasi Kurikulum: Sebuah Prinsip Dasar

Implementasi Kurikulum: Sebuah Prinsip Dasar

Oleh Imam Mawardi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, implementasi adalah pelaksanaan, penerapan: pertemuan kedua ini bermaksud mencari bentuk tentang hal yang disepakati dulu (Tim Penyusun 2005:427). Sedangkan menurut Susilo (2007:174) implementasi merupakan suatu penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai, dan sikap. Dalam Oxford Advance Learner Dictionary dikemukakan bahwa implementasi adalah “put something into effect” (penerapan sesuatu yang memberikan efek atau dampak).

Miller& Seller (1985) mendefinisikan kata implementasi dengan tiga pendekatan, yaitu : Pertama, implementasi didefinisikan sebagai kegiatan. Kedua, suatu usaha meningkatkan proses interaksi antara pengembang guru dengan guru. Ketiga, implementasi merupakan sesuatu yang terpisah dari komponen kurikulum.

Sedangkan pengertian kurikulum, diantaranya menurut Mcdonal (1965) menyatakan bahwa kurikulum sebagai rencana kegiatan untuk menuntun pengajaran. Kurikulum juga diartikan sebagai dokumen tertulis yang memuat rencana untuk pendidikan peserta didik selama belajar di sekolah (Beauchamp, 1981) atau sebagai rencana untuk membelajarkan peserta didik (Hilda Taba, 1962). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kurikulum adalah (1) perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan, (2) perangkat mata kuliah mengenai bidang keahlian khusus (Tim penyusun 2005:617). Ahli kurikulum lainnya Mauritz Johnson dalam Sukmadinata, kurikulum “Prescribes (or at least anticipates) the result of in struction” kurikulum merupakan suatu rencana pendidikan, memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup dan urutan isi serta proses pendidikan (Sukmadinata 2004:4). Jadi kurikulum adalah suatu rencana yang memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar mengajar.

Sedangkan menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (BSNP 2006:5).

Definisi lainnya adalah berkaitan dengan siklus kurikulum (curriculum cycle), seperti dikemuakan oleh Saylor dan Alexander (1974), mereka memandang proses pengajaran adalah sebagai implementasi, tepatnya adalah merupakan implementasi rencana kurikulum.

Berdasarkan definisi implementasi dan definisi kurikulum tersebut, maka implementasi kurikulum didefinisikan sebagai suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan kurikulum (kurikulum potensial) dalam suatu aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. (Susilo 2007:174-175). Juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum operasional dalam bentuk pembelajaran (Mulyasa 2006:246). Demikian juga sebagaimana dijelaskan oleh Saylor dan Alexander (1974) dalam Miller and Seller (1985: 246) implementasi kurikulum sebagai proses menerapkan rencana kurikulum (program) dalam bentuk pembelajaran, melibatkan interaksi siswa-guru dan dalam konteks persekolahan.

Implementasi kurikulum dalam lapangan pendidikan sebagai aspek terpenting dari pengembangan kurikulum, hal tersebut seperti apa yang dikemukakan oleh Leslie Bishop pada Ornstein (1993,297) yang mengemukakan bahwa: “The implementation requires restructuring and replacement”. It requires adjusting personal habit, ways of behaving, program emphases, learning spaces, existing curricula and schedules.

Dengan demikian implementasi kurikulum diharapkan akan membuat ”it means getting educators to shift from the current program to the new program, a modification that can be met with great resistance”.

Prinsip dan Dasar-Dasar Implementasi:
Untuk implementasi program dan proses terjadinya perubahan harus dilakukan berdasarkan perilaku dari semua pihak yang terkena dampak. Guru harus mampu menjelaskan mengenai tujuan, sifat, dan manfaat inovasi.
Kesuksesan implementasi kurikulum merupakan hasil dari perencanaan hati-hati. Proses perencanaan berdasarkan atas kebutuhan dan sumber daya yang diperlukan untuk melakukan tindakan yang dimaksudkan. Ia melibatkan penetapan dan penentuan cara untuk mengelola kebijakan yang akan mempengaruhi tindakan yang direncanakan. Implementasi memerlukan perencanaan, dan perencanaan terfokus pada tiga faktor: orang, program, dan proses. Dimana ketiga aspek tadi saling menunjang satu dengan yang lainnya. Skala prioritas pada satu aspek juga akan berdampak kepada aspek yg lainnya.
Implementalism, orang akan diubah, namun mereka juga takut terhadap perubahan, terutama jika ia datang dengan cepat atau jika mereka merasa bahwa mereka tidak memiliki kontrol atau pengaruh atasnya. Menjadi orang biasa dengan status quo dan memilih untuk melakukan modifikasi perilaku baru di dalam langkah kecil atau bertahap.
Karena implementasi tidak terjadi pada waktu yang sama dengan semua guru. Idealnya, proses implementasi memungkinkan waktu yang cukup untuk beberapa kelompok guru dalam mencoba kurikulum yang baru.
Komunikasi, ketika sebuah program baru sedang dirancang, saluran komunikasi harus terbuka agar program yang baru datang bukan sebagai kejutan. Sering mengadakan diskusi tentang sebuah program baru di kalangan guru, kepala sekolah, dan pekerja kurikulum adalah kunci implementasi yang sukses.
Dukungan, desainer kurikulum harus memberikan dukungan yang diperlukan untuk program yang direkomendasikan atau modifikasi program untuk memfasilitasi implementasi.

Pedoman yang harus diikuti untuk membuat implementasi yang berhasil sebagai suatu proses perubahan:
Inovasi dirancang untuk meningkatkan prestasi siswa
Inovasi yang berhasil memerlukan perubahan dalam struktur sekolah tradisional.
Inovasi harus diatur dan layak untuk semua guru.
Implementasi yang berhasil mengubah upaya-upaya organik daripada birokrasi;
Hindari, “do something, do anything” syndrome.

Dapat dicontohkan bahwa implementasi kurikulum berimplikasi terhadap serangkaian tuntutan yang harus dipenuhi oleh seorang guru dalam menjalan tugas keprofesionalannya. Dengan asumsi bahwa gurulah yang paling tahu mengenai tingkat perkembangan peserta didik, perbedaan perorangan (individual) siswa, daya serap, suasana dalam kegiatan pembelajaran, serta sarana dan sumber yang tersedia maka guru berwenang untuk menjabarkan dan mengembangkan kurikulum ke dalam silabus. Pengembangan ini hendaknya mendasarkan pada beberapa hal diantaranya: isi (konten), konsep, kecakapan / keterampilan, masalah, serta minat siswa. Guru perlu memahami prinsip-prinsip mengajar yang mengacu pada peningkatan kemampuan internal siswa. Peningkatan kemampuan ini misalnya dilakukan dengan menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa mampu mencapai kompetensi secara penuh, utuh dan kontekstual. Pentingnya peran guru dalam implementasi kurikulum ditegaskan juga oleh Lee (1996) serta Mars (1980) dan Syaodih (1988) di dalam Mulyasa (2003).

Peran guru dalam pembelajaran pada konteks KBK, menurut Sanjaya (2005), adalah sebagai: (1) fasilitator; (2) manajer; (3) demonstrator; (4) administrator; (5) motivator; (6) organisator; dan (7) evaluator. Sebagai fasilitator guru berperan untuk memudahkan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran, terutama dalam kaitannya dengan penggunaan media dan sumber belajar. Sebagai manajer pembelajaran guru berperan dalam menciptakan suasana / iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman, melalui pengelolaan kelas yang baik. Peran sebagai demonstrator dapat ditunjukkan dengan penampilan guru yang menjadi acuan bagi siswa. Sebagai administrator guru memungsikan penggunaan dokumentasi dan data siswa untuk keperluan pembinaan dan bimbingan. Sebagai organisator peran yang diharapkan pada guru dalam mengorganisasi siswa, baik secara kelompok maupun individual, sehingga tetap terjaga keharmonisan diantara siswa. Guru sebagai evaluator harus memilik kemampuan untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran pada masing-masing siswa dan kelompok siswa, serta mampu menggunakannya sebagai alat untuk penentuan tindak lanjut.

Sheldon (1981) mengidentifikasi sejumlah faktor yang berhubungan dengan implementasi suatu inovasi kurikulum. Nilai (value) personal dan profesional serta harapan guru terhadap kurikulum baru merupakan faktor yang paling menentukan terhadap keberhasilan inovasi.


Referensi Pendukung
John P. Miller, J.P. & Seller, W. 1985. Curriculum Perspective and Practice. Longman.Inc
Hamalik, Oemar. 1995. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
-----. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Konstekstual Panduan Bagi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Sebuah Panduan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Nasution, S. MA.2003. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.
Sugandi, Achmad. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK Unnes Press.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Susilo, Muhammad Joko, 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Senin, Juni 01, 2009

Cermin Episode Kehidupan (Catatan Ulang tahun Umi ke-27)

Cermin Episode Kehidupan
(Catatan Ulang tahun Umi ke-27)

By Abihan (Mawardy el-Razal)

Kehidupan senantiasa berjalan seiring kumparan waktu menuju titik kulminasi. Setiap jejak yang ditinggalkan dengan pernik-perniknya menjadikan romantika tersendiri yang mengiringi sebuah perjalanan hidup. Romantika akan menjadi sejarah hidup, bila dituliskan dan menjadi makna apabila setiap episode hidup dapat dijadikan pelajaran apapun bentuk pengalaman yang telah dilakukan, baik yang berupa pengalaman yang tidak membahagiakan maupun yang membahagiakan. Semua pengalaman sebagai pernik-pernik hidup, apapun bentuknya seharusnya menjadikan rasa syukur sebagai bentuk kedewasaan seiring usia yang bertambah. Karena hakekat takdir, kita tidak mengetahuinya, bisa jadi bertambahnya usia berarti berkurangnya usia. Apa yang seharusnya dilakukan sekarang sebagai bentuk kedewasaan itu sendiri, tidak lain adalah dengan selalu ridla menjalani dan meneruskan kehidupan apapun bentuk kehidupan itu sendiri.

Umi… , 2 Juni 2009 besok umi akan memasuki usia yang ke-27 tahun. Usia yang matang sebagai seorang ibu, sebuah kebanggaan sekaligus cita-cita tertinggi seorang perempuan. Bukan sekedar sebagai istri tetapi juga berkolaborasi integral sebagai seorang ibu bagi anak-anak. Tanggungjawab kehidupan semakin besar, tapi disinilah nikmatnya bisa berperan mengantarkan regenerasi peradaban manusia, sebagai pendamping, pengasuh sekaligus pendidik untuk mewariskan nilai-nilai yang seharusnnya diajarkan dengan kesadaran hati dan keterbukaan logika. Nilai akan menempus batas impian, sewaktu kesabaran dan keikhlasan untuk memberi yang terbaik sebatas kemampuan dalam berproses, bukan sekedar hasil yang menjadi tujuannya. Karena hasil dari proses yang kita lakukan kita serahkan sepenuhnya pada Allah Khaliqul Musawwir. Ini adalah bentuk ikhtiar sebuah kemampuan, agar terhindar dari sikap takabur yang menyesatkan.

Ulang tahun harus dimaknai sebagai refleksi muhasabah diri, bukan sebagai pesta. Tetapi tidak usah menyalakan orang lain yang dirayakan sebagai pesta dengan dalih sebagai bentuk rasa syukur. Karena kelurga kita harus mulai saat ini untuk menciptakan budaya sendiri, tidak harus sama dengan orang lain yang lagi trend, meskipun kita dianggap kampungan sekalipun, tidak mengapa. Anak-anak harus diberi kesadaran akan hal ini.

Episode-episode kehidupan telah umi jalani dan akan menuju episode kehidupan selanjutnya. Selama 6 tahun yang lalu (2003) umi telah berikrar menjalani kehidupan bersama abi, selama itu pula episode umi berintegrasi dengan episode kehidupan abi. Beberapa amanat yang menjadi tanggung jawab bersama harus menjadi prioritas. Anak-anak adalah amanat dari Allah swt yang dititipkan pada kita untuk didik menjadi hamba yang takwa. Semoga di setiap etape perjalanan kehidupan ini kita bisa menjaga amanat dengan sebaik-baiknya.

Umi… hari-hari yang membahagiakan adalah kebersamaan prinsip meski kadang harus berbeda, tapi bukan yang substansial. Keinginan menundukkan logika kenisbian dan menepiskan nafsu-nafsu menjadi jalan pencerahan hati.
Selamat ulang tahun umi, semoga hari-hari selalu bersemi dengan senyuman umi.

Bandung, 1 Juni 2009
Sandaran hati Abihan (Mawardi el-Razal)

Jumat, Mei 22, 2009

Belajar Ilmu Ikhlas

Belajar Ilmu Ikhlas
(Jawaban untuk abi)

Abi… maafkan umi, bukan maksud umi untuk mengeluh. Tetapi berbagi asa bagaimana seharusnya kehidupan yang harus kita jalani. Bukankah hidup ini harus berjalan seiring waktu menghitung usia, dan kita menjalaninya dan menikmatinya sebagai romantika yang indah apapun keadaannya.

Umi menyadari, meskipun sekarang agak pragmatis karena tuntutan yang mengharuskan demikian, tetapi nilai-nilai idealisme yang mulai kita bangun di awal-awal pernikahan, tidak harus kaya material dalam keluarga, tetapi kaya spiritual sebagai modal membangun peradaban dari keluarga harus tetap terjaga dengan baik, maka kita butuhkan ilmu untuk menjaganya. Nasehat-nasehat abi bagi umi adalah lautan ilmu, buku-buku yang abi belikan laksana mutiara yang memperkaya wawasan umi--- bagaimana memahami hal kecil dari diri sampai menemukan hakekat kehidupan.

Umi sadar, sebagai istri masih sering bertindak salah menuntut sesuatu diluar kemampuan abi. Sebagai ibu dari anak-anak umi sering emosional menghadapi kerewelan disaat-saat kelelahan aktifitas rumah tangga. Umi harus belajar lebih banyak tentang ilmu ikhlas dan makna kesabaran di setiap sisi kehidupan. Umi ingin menjadi istri yang saleha yang mendampingi abi dan mendidik anak-anak menjadi generasi yang salih.
Apapun keadaanya... kehidupan selalu berjalan di porosnya.
Salam cinta dari umi dan anak-anak untuk abi

Magelang, 22 Mei 2009

Senin, Mei 18, 2009

Merajut Benang yang Tersisa

Merajut Benang yang Tersisa
Catatan untuk ISTRIKU

By Abihan (Imam Mawardi)

Setiap kata … yang ingin abi tuturkan, pasti umi memahaminya. Sebelum fajar sisa kantuk tak menyisakan angan … ataukah harapan yang belum jua datang. Ini bukan cita-cita sebagaimana idealisme yang mulai kita bangun semenjak pernikahan. Meskipun banyak liku-liku hidup yang mengajak pada sikap pragmatisme, mestikah kita larut dalam arus yang kadang kita memungkiri hati nurani. Jangan katakan kita miskin kalau ukurannya hanyalah material belaka, karena sesungguhnya apa yang bisa kita perbuat dengan keikhlasan sesungguhnya disitu letak kekayaan kita.

Hari-hari yang selalu berganti dengan suasana yang sama, terasa membosankan, apalagi tanpa kehadiran abi seperti dulu untuk berbagi asa, memecahkan persoalan, menanggung beban bersama dan merasakan nikmatnya makna kebersamaan itu sendiri, meskipun tidak punya apa-apa. Umi pasti memahaminya, Abi tidak selamanya di sini… tugas belajar pasti berakhir dan kembali merajut hari-hari dengan kebersamaan kembali.
Persoalan yang utama, bukan masalah komunikasi… , bukankah sekarang kita selalu membangunnya dengan selalu menelpon—menanyakan kabar, bahkan kita membangun komunikasi hati, komunikasi do’a di setiap akhir malam dan setiap waktu dalam lapas ingatan kita untuk menyatukan asa. Tetapi, masalah keuangan… sebuah masalah yang sebenarnya bukan masalah kita saja, masalah banyak orang. Gaji abi yang umi terima tiap bulan, langsung habis bukan untuk konsumtif tapi untuk cicilan hutang rumah. Ini baru namanya kehidupan umi, harus berfikir menemukan cara yang terbaiik bagaimana mengelola rizki dan kehidupan secara bersama-sama.

“Modal kepercayaan”, bukankah ini yang selalu umi lakukan. Bersyukurlah karena kita masih dipercaya untuk bisa hutang. Bahkan umi dipercaya menjualkan barang-barang tetangga dengan bagi hasil hanya dengan modal kelihaian umi menawarkan barang, tentunya di sini tidak perlu malu, meskipun kadang hanyalah menjualkan tempe goreng. Setiap potensi harus disyukuri kemudian baru berfikir bagaimana mengembangkannya. Kita merasa malu karena kita berfikir tentang malu, padahal apa yang kita lakukan adalah sebuah kebenaran bukan sebuah penipuan. Disinilah harga diri akan diuji … sampai terasa nilai keberkahan merasuk di setiap sisi kehidupan.

Sudahlah… masa depan penuh keberkahan pasti kita raih, tanpa harus bertanya “kapan”. Dengan keihklasan, kesabaran, keuletan dan do’a, kita yakin Allah tidak akan membiarkan hambanya yang berusaha dengan kesusahan.

Bandung, 18 Mei 2009

Sabtu, April 18, 2009

Sukses Belajar: Transformasi Ilmu dan Ridla Allah SWT


Sukses Belajar: Transformasi Ilmu dan Ridla Allah swt

By Imam Mawardi Rz (Abihan)

Belajar menjadi kewajiban bagi setiap muslim tidak memandang status gender, kaya-miskin, muda-tua, ataupun status sosial yang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”(HR. Muslim), hal ini menuntut bahwa belajar menjadi syarat mutlak setiap muslim, karena dengan belajar akan menjadikan seseorang memahami segala pernik kehidupan dan mampu mengambil makna darinya.

Salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada manusia adalah kemampuan untuk belajar, apalagi satu potensi yang diberikan kepada manusia bukan pada makluk yang lain adalah kemampuan berfikir. Di samping itu juga bagaimana Allah swt sebagai Rabby, Sang Maha pendidik memberi satu anugerah yang sangat berharga dengan mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Ilmu seperti cahaya, yang membawa manusia keluar dari gelapnya kebodohan menuju cahaya ilmu pengetahuan. Oleh karena itu belajar menjadi sebuah kebutuhan manusia. Untuk bisa beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungannya dibutuhkan belajar. Untuk meningkatkan taraf hidup dibutuhkan belajar. Tentunya di sini belajar menjadikan manusia sangat berarti baik dalam hubungannya dengan kepentingan sendiri maupun orang lain dapat mengambil manfaatnya.

Belajar salah satu indikatornya adalah membaca. Dengan banyak membaca akan memabuka jendela dunia, membuka pintu pengetahuan, memperluas wawasan, menguatkan kebijaksanaan, memperbanyak bersyukur dan meningkatkan keimanan. Allah swt berfirman: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang telah menciptkan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS Al-Alaq: 1-5).

Syarat utama dan terpenting untuk bisa belajar dengan baik dan mampu mengambil hikmah di dalamnya agar mendapatakan kesuksesan yang penuh berkah adalah memantapkan niat dan tujuannya. Niatnya harus tulus ikhlas dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. Tujuannya pula tidak lain adalah sebagai bentuk ibadah untuk mencari keridlaan Allah Swt dan bisa memberikan kemanfaatan bagi kehidupan manusia. Jika niat dan tujuan telah tertata dengan baik dan penuh semangat serta tawadlu’, Allah akan menuliskan pahala padanya dalam setiap langkahnya ketika menuntut ilmu. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa berjalan di jalan untuk mencari ilmu, Allah akan menunjukkannya jalan diantara jalan menuju surga” (HR. Bukhari).

Setiap kebaikan yang diberikan akan berdampak terhadap kebaikan pula, demikian pula sebaliknya dari keburukan yang ditanamkan akan berdampak pada keburukan pula. Dalam hal belajar orientasi semata-mata untuk keb aikan baik untuk kebaikan diri sendiri, maupun bagi orang lain dan alam tentunya. Allah swt berfirman: Barangsiapa melakukankebaikan walau sebesar biji zarrah, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa melakukan keburukan walaupun sebesar biji zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya,” (QS. Al-Zalzalah: 7-8).

Tujuan harus benar dalam belajar, karena apabila bukan karena mencari ridla Allah, akaibatnya akan fatal. Mungkin saja tujuannya hanyalah mencari gagah-gagahan, mencari kekuasaan, harta, status social, mempermainkan orang-orang yang lemah, atau kesombongan-- fenomena saat ini banyak terjadi dari para cendekiawan adalah “egoisme intelektuial” dimana ketika berargumen tidak mau dikalahkan dan selalu memberi justifikasi benar terhadap apa yang dikatakan. Orang yang seperti ini adalah dianggap gagal dalam dialektika keilmuan sendiri apalagi di mata Allah swt, tiada gunanya apa yang dipelajari selama ini, tiada manfaat yang dapat diperolehnya. Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya dicari untuk mendapatkan ridha Allah Azza wa Jalla, (tetapi) dia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan sesuatu dari dunia, dia tidak akan mendapatkan aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari). Juga sabdanya: “Barangsiapa menuntut ilmu untuk menyejajari orang-orang berilmu, atau untuk mempermainkan orang-orang bodoh, dan memalingkan wajah orang kepadanya, Allah akan memasukkannya ke neraka.” Hal ini berlaku tidak hanya untuk ilmu-ilmu agama tetapi juga ilmu-ilmu umum, misalnya kedokteran, teknik, pendidikan, ekonomi dan lain sebaganya.

Semoga kita tergolang orang-orang pembelajar yang diridlai Allah SWT, oleh karena itu mulai saat ini meluruskan niat dan tujuan sehingga dapat menemukan hakekat cahaya ilmu dengan kemanfaatan yang sempurna di sisi Allah swt. Amin.

Bandung, 18 April 2009

Selasa, Maret 24, 2009

Kisah Lagu Cinta


Kisah Lagu Cinta

Masih saja keberadaan itu menyisahkan tanya
untuk apa oase yang terbitkan saujana
saat kerontang menawar kemarau di hati. Luka
Adalah surga yang mentasbihkan kisah
seperti hari-hari menyanyikan lagu cinta

Musim tak mengenal lelah mengeja setiap huruf-huruf
di altar matahari
hari ini aku bawakan kembali kisah sepotong masa depan
dalam persenggamaan sunyi, ketika takbir mengguncang jagat nurani
tiada perbincangan atau pembicaraan yang direncanakan
begitu mengalir seperti nafas menghempas sepi

Lupakan sejenak preluda kemapanan, karena kita akan berkisah
tentang prosesi kehidupan
pasangan kejadian memoles wajah dunia
seperti hitam dan putih yang tergelar menawar harga kejujuran

Sudahlah, kita lanjutkan saja kehidupan
apapun yang terjadi untuk berguru memahami setiap rencana-Nya

Bandung, 23 Maret 2009
Mawardy El-Razal

Selasa, Maret 17, 2009

Kesiapan Guru untuk Mengajar dengan Model Desain Pembelajaran


Kesiapan Guru untuk Mengajar dengan Model Desain Pembelajaran
by Imam Mawardi Rz
muhammadiyah university of magelang

Kesiapan guru untuk mengajar berkaitan erat dengan cara guru mempersiapkan peserta didik untuk belajar. Kesiapan mengajar ini seperti petani mempersiapkan tanah untuk ditanami benih, jika dilakukan dengan benar, niscaya menciptakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan yang sehat. Demikian juga dalam mengajar, jika persiapan matang sesuai dengan karakteristik kebutuhan, materi, metode, pendekatan, lingkungan serta kemampuan guru, maka hasinya diasumsikan akan lebih optimal. (Susilana, et al. 2006: 96).

Oleh sebab itu, guru yang baik untuk saat ini tidak cukup untuk sekedar bersikap hangat dan menyayangi anak-anak, atau sekadar menerapkan praktik-praktik mengajar yang semata-mata didasarkan pada intuisi, preferensi pribadi atau kearifan konvensional (Arend, 2007). Tetapi lebih jauh untuk professional yang dimulai dengan kesiapan perencanaan sampai pada tahap evaluasi dengan berbagai kemampuan yang berhubungan dengan dunia pendidikan dan pengajaran. Karenanya, Nathaniel Gage, salah seorang peneliti pendiikan terkemuka di USA--sebagaimana dikutip Arend, 2007—mendefinisikan mengajar sebagai sebuah seni instrumental, yaitu mengajar adalah suatu yang berangkat dari “resep”, formula, atau algoritma. Ia membutuhkan improvisasi, spontanitas, penanganan sejumlah pertimbangan tentang bentuk, gaya, kecepatan, ritme, dan ketepatgunaan dengan cara yang begitu kompleks sehingga bahkan computer sekalipun tidak akan mampu melakukannya, seperti halnya mereka tidak mampu menyamai apa yang dilakukan oleh seorang ibu terhadap anaknya yang berusia lima tahun arau apa yang setiap saat diucapkan seorang kekasih kepada orang yang dicintainya.

Dalam hal kemampuan “kesiapan” guru untuk mengajar menjadi hal yang sangat penting, yaitu meliputi antara lain kemampuan:
a. Penguasaan bidang keilmuan yang menjadi kewenangannya
b. Kemampuan merancang program pembelajaran
c. Menyusun desain pembelajaran, terdiri: 1) tujuan, 2) materi, 3) metode, media dan sumber, 4) kegiatan belajar siswa, dan 5) evaluasi.

Dalam menyusun model desain pembelajaran seorang guru harus mendasarkan pada prinsip-prinsip pendidikan, teori-teori psikologis, sosiologis, psikiatri, analisis sistem, atau teori-teori lain. Joyce & Weil (1980) berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Di samping itu model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru dalam persiapan mengajar boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya.

Pada dasarnya, model desain pembelajaran merupakan pengelolaan dan pengembangan yang dilakukan terhadap komponen-komponen pembelajaran. Adapun beberapa model desain pembelajaran antara lain: Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional), Model Jerold E. Kemp, Model Gerlach and Ely, Model Glaser, Model Bella Banathy, Model Rogers, Model Pembelajaran Kontekstual (CTL), dll.
Adapun Aspek Desain Pembelajaran sebagaimana yang di tulis Wahono (2006) adalah sebagai berikut:

•Kejelasan tujuan pembelajaran (rumusan, realistis)
•Relevansi tujuan pembelajaran dengan SK/KD/Kurikulum
•Cakupan dan kedalaman tujuan pembelajaran
•Ketepatan penggunaan strategi pembelajaran
•Interaktivitas
•Pemberian motivasi belajar
•Kontekstualitas dan aktualitas
•Kelengkapan dan kualitas bahan bantuan belajar
•Kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran
•Kedalaman materi
•Kemudahan untuk dipahami
•Sistematis, runut, alur logika jelas
•Kejelasan uraian, pembahasan, contoh, simulasi, latihan
•Konsistensi evaluasi dengan tujuan pembelajaran
•Ketepatan dan ketetapan alat evaluasi
•Pemberian umpan balik terhadap hasil evaluasi

Model-model dan aspek-aspek desain pembelajaran tersebut pada hakekatnya dapat digunakan dan dikembangkan untuk kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh seorang guru. Hal yang terpenting di sini adalah bagaimana seorang guru dapat mengelola dan mengembangkan komponen-komponen pembelajaran itu dalam suatu desain yang terencana dengan memperhatikan kondisi actual dari unsure-unsur penunjang dalam implementasi pembelajaran yang akan dilakukan, misalnya: alokasi waktu yang tersedia, sarana dan prasarana pembelajaran, biaya, dan sebagainya.

Referensi:
Arend, R.I. (2007). Learning to Teach. edisi ke-7. New York: McGraw Hill Companies, Inc., 1221 Avenue of the Americas.
Susilana, R. et al. (2006). Kurikulum dan Pembelajaran. Ed. 2. Bandung: Jurusan kutekpen FIP UPI
Wahono, R.S. (2006). Aspek dan Kriteria Penilaian Media Pembelajaran.[Online]. Tersedia: http://romisatriawahono.net/2006/06/21/aspek-dan-kriteria-penilaian-media-pembelajaran/ [10 November 2008]

Implikasi perkembangan iptek dan informasi serta kebutuhan SDM terhadap pengembangan kurikulum dan pengajaran.

Implikasi perkembangan iptek dan informasi serta kebutuhan SDM terhadap pengembangan kurikulum dan pengajaran.

by Imam Mawardi Rz
muhammadiyah university of magelang

Perkembanagan IPTEK membawa pengaruh yang besar terhadap kehidupan social dan kebudayaan umat manusia, yang meliputi beberapa aspek antara lain komunikasi, transportasi, mekanisasi industri, pertanian dan persenjataan, termasuk di dalamnya adalah pendidikan.

Perkembangan IPTEK di samping banyak menimbulkan perubahan dalam nilai-nilai,--baik nilai social, budaya, spiritual, intelektual maupun material—juga menimbulkan kebutuhan baru, aspirasi baru dan sikap hidup baru (Sukmadinata, 2000). Hal-hal di atas menuntut perubahan pada sistem dan isi pendidikan yang diwujudkan dalam rekonstruksi kurikulum. Mengingat pendidikan bukan hanya mewariskan nilai-nilai dan hasil kebudayaan lama, tetapi juga mempersiapkan SDM unggul agar mampu hidup pada masa kini dan yang akan datang

Perkembangan IPTEK secara langsung maupun tidak langsung membawa pengaruh terhadap kurikulum pendidikan. Pengaruh langsung dari perkembangan ini adalah memberikan isi/materi atau bahan yang akan disampaikan dalam pendidikan. Sedang pengaruh tidak langsung dari perkembangan IPTEK ini menyebabkan perkembangan masyarakat, yang tentunya menimbulkan problema-problema baru yang menuntut pemecahan masalah dengan pengetahuan dan ketrampilan baru yang dikembangkan dalam pendidikan (Sukmadinata, 2000).

Oleh sebab itu, perlunya usaha-usaha yang terus menerus dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran agar selaras dengan perkembangan zaman. Usaha-usaha tersebut antara lain meliputi:
1.Perbaikan kurikulum secara terus menerus dapat di up date
2.Isi muatan kurikulum dapat memenuhi kebutuhan stake holders
3.Isu-isu global perkembangan kontemporer dan nilai-nilai kearifan potensi local menjadi basic pendekatan kurikulum
4.Pengembangan metode pengajaran yang bervariasi
5.Penggunaan multimedia dalam pembelajaran

Pandangan Filsafat kurikulum dan pengajaran terhadap perkembangan iptek dan informasi

Akibat pengaruh globalisasi yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, memberikan dampak tersendiri bagi kehidupan manusia, baik dampak yang positif maupun maupun yang negatif. Dampak yang positif salah satunya memberikan kemudahan bagi manusia memenuhi kebutuhannya secara cepat, efektif dan efisien di segala lini aktivitas kehidupan. Sebaliknya dampak negatifnya tak kurang banyak, termasuk di dalamnya sifat ketergantungan manusia olehn kemudahan fasilitas, di samping dampak-dampak lainnya yang berhubungan dengan kehidupan social.

Implikasi nyata dalam dunia pendidikan membawa pengaruh terhadap model pendidikan dimana tuntutan kurikulum dan pengajaran harus selalu up to date terus menerus, disesuaikan dengan perkembangan yang ada, agar hasil dari pengembangan kurikulum tidak ketinggalan zaman. Kenyataan seperti sebagaimana digambaarkan filsafat progresivisme yang memandang bahwa kemajuan yang telah dicapai oleh manusia dewasa ini karena kemampuan manusia dalam mengembangkanberbagai ilmu, baik ilmu-ilmu social, budaya, maupun ilmu pengetahuan alam (Barnadib, 1996). Ide-ide sentral pendidikan yang dikembangkan dalam progresivisme ini berkisar pada penerapan dari konsep-konsep rasionalitas, kebebasan dan kesamaan. Pendidikan adalah distribusi demokratis dan rasionalitas dengan perlakuan yang seimbang (kewajiban dan hak) antara kebebasan dan kesamaan pada subjek didik. Hal ini sebagaimana dikatakan Imam Barnadib (1996) bahwa menurut teori SDM, suasana pendidikan (kurikulum dan aspek-aspek pembelajaran) mengikuti konsep pendidikan yang berpusat pada siswa dan mengutamakan perhatiannya ke masa depan daripada masa lalu, yaitu tuntutan untuk survive mengikuti perkembangan zaman, terutamanya perkembangan informasi dan IPTEK.

Kamis, Februari 19, 2009

Pengembangan Diri

Pengembangan Diri
by Imam Mawardi

Pasca lulus pendidikan formal, bukan berarti berhenti dari aktifitas untuk mengikuti perkembangan dunia kontemporer. Pengembangan diri bisa dilakukan melalui lembaga-lembaga nonformal (kursus-kursus ketrampilan misalnya), atau bergabung dengan organisasi social kemasyatrakatan, karena dengan masuk organisasi ini akan terjadi transformasi ilmu pengetahuan secara tidak langsung melalui gesekan-gesekan pemikiran, aktivitas, dan solidaritas sosial. Di samping itu cepatnya perkembangan informasi dan ilmu pengetahuan dengan ditemukannya teknologi-teknologi canggi, tidak sulit lagi untuk mengakses berita dan perkembangan lain yang terjadi di seluruh dunia. Lewat jaringan ponsel, internet dengan berbagai fasilitasnya bisa berselancar di dunia maya.

Plus-minusnya perkembangan iptek harus disadari bisa mempengaruhi tradisi dan pola gaya hidup, yang bisa mendatangkan pengaruh baik di satu sisi, tetapi di sisi yang lain bisa mendatangkan pengaruh yang buruk, kejahatan, pornography, dan sebagainya. Oleh sebab itu pendidikan nilai (Aqidah & Akhlak) menjadi sangat penting dalam membekali anak/remaja memfilter pengaruh-pengaruh negatif .

Rencana Pengembangan Diri Guru
Mengadobsi pada National Education Association (NEA) pengembangan guru meliputi lima komponen pendidikan yaitu perencanaan, implementasi, personalia, isi program serta keanggotaan dalam profesi guru.

1.Perencanaan
•Tujuan program adalah menyiapkan guru trampil dan selalu mengikuti perkembangan kontemporer dan menghindari gagap teknologi
•Program disusun atas analisis kebutuhan menghadapi perkembangan mutakhir dan isu-isu global
•Perencanaan didasarkan atas pengetahuan perkembangan kontemporer tentang apa yang harus dilakukan guru di tengah peradaban global, baik untuk meningkatkan ketrampilan pengajaran maupun ketrampilan lain dari perkembangan IPTEK.
•Rencana program bersifat menyeluruh, berisi pemberian kesempatan pengembangan diri, penguasaan pengetahuan, dan ketrampilan yang esensial bagi pelaksanaan pengajaran yang efektif.

2.Implementasi
•Implementasi sejalan dengan tujuan dan rencana program
•Implementasi program berupa pelatihan-pelatihan, seminar-seminar dan workshop bagi guru tentang perkembangan isu-isu global
•Program menyediakan kesempatan yang cukup bagi guru untuk mempraktekkan apa yang mereka pelajari

3.Personalia
•Guru dan staf dievaluasi dengan criteria standar, dan penentuan kebijaksanaan personalia didasarkan atas hasil evaluasi

4.Isi program
•Pelatihan teknologi: pelatihan ICT, e-learning, mobile learning, dll
•Seminar isu-isu global: seminar MDGs, seminar global warming, seminar gender, seminar soft skills, seminar kurikulum masa depan, dll
•Workshop pembelajaran: pembelajaran berbasis IT, web pendidikan, metodologi pembelajaran, pemanfaatan media pembelajaran
•Pelatihan pengembangan diri: pelatihan kepemimpinan, pelatihan ESQ, pelatihan shalat khusuk, out bond training, dsb.

5.Keanggotaan profesi
•Organisasi profesi dan link lintas profesi
•Diskusi-diskusi membahas persoalan perkembangan mutakhir dan isu-isu global
•Penyediakan jurnal-jurnal penelitian, artikel-artikel tentang perkembangan kontemporer dunia pendidikan, ilmu pengetahuan dan social budaya.

Selasa, Februari 17, 2009

Pendidikan Karakter


Pendidikan Karakter
by Imam Mawardi

Pembentukan karakter merupakan bagian penting kinerja pendidikan. Karakter merupakan bentuk kepribadian yang melekat pada diri seseorang. Confusius – seorang filsuf terkenal Cina - menyatakan bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi mencintai kebajikan, namun bila potensi ini tidak diikuti dengan pendidikan dan sosialisasi setelah manusia dilahirkan, maka manusia dapat berubah menjadi binatang, bahkan lebih buruk lagi (Megawangi, 2003). Demikian juga, sebagaimana hadist Rosulullah saw, yang meyatakan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, karena kedua orangtuanyalah (baca: lingkungan) menjadikan anak itu yahudi, nasrani atau majusi (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa fitrah atau potensi tidak bisa dibiarkan begitu saja tapi perlu ditumbuhkan, sebagaimana benih yang baik, kalau ditanam ditanah yang subur dan dirawat (disiram dan dipupuk) dengan baik, maka benih itu akan tumbuh menjadi tanaman yang subur dan berbuah banyak. Demikian juga dengan karakter yang merupakan bagian dari potensi anak , harus dibina dan dididik dengan baik, biar menjadi anak yang shalih dan bermanfaat.

Permasalahannya: Bagaimana Mendidik Karakter?

Pembentukan karakter itu terjadi melalui dinamika pengajaran di kelas, bukan melalui seminar, sosialisasi, atau pelatihan dadakan. Diskursus tentang pembentukan karakter yang dipahami secara parsial bisa mebjadi sarana pelarian(eskapisme) guru dari tanggung jawab merekauntuk meningkatkan prestasi akademik siswa denagn cara member penekanan berlebihan pada unsur-unsur non akademis. Padahal keunggulan akademis adalah bagian dari pembentukan karakter itu sendiri. Tugas utama guru adalah mengembangkan ekselensi akademis dalam diri siswa. Mutu pendidikan kita kian menurun karena visi keunggulan akdemis ini diabaikan. Akibatnya, pembentukan karakter siswa juga terpinggirkan (Doni Koesoema A, Kompas, 17 Desember 2008).

Agar pendidikan karakter terjadi secara integral, guru perlu memahami kembali visi mengajarnya dan percaya bahwa mengembangkan keunggulan akademis adalah tugas utamanya sebagai pendidik. Dalam bahasa yang lain pendidikan karakter , akan membentuk ketrampilan halus (soft skills).

Pengembangan soft skills dalam pendidikan bertumpu pada pembinaan mentalitas karakter agar siswa dapat menyesuaikan diri dengan realitas kehidupan. Hasil penelitian mengungkapkan, kesuksesan seseorang hanya ditentukan sekitar 20 persen dengan hard skill dan sisanya 80 persen dengan soft skills. Proses pendidikan merupakan perubahan pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) dan sikap (afektif) seseorang, maka pendidikan seharusnya menghasilkan output dengan kemampuan yang proporsional antara hard skills dan soft skills. Selain karena kurikulum yang memiliki muatan soft skills yang rendah dibanding muatan hard skills, ketidakseimbangan antara soft skills dengan hard skills juga dapat disebabkan oleh proses pembelajaran yang menekankan pada perolehan nilai hasil ulangan maupun nilai hasil ujian. (Pramuji, 2008)

Aribowo dalam Sailah (2008), membagi soft skills atau people skills menjadi dua bagian, yaitu intrapersonal skills dan interpersonal skills. Dua jenis keterampilan tersebut dirinci sebagai berikut:

Intrapersonal Skill(Keterampilan seseorang dalam ”mengatur” diri sendiri)

Transforming Character
Transforming Beliefs
Change management
Stress management
Time management
Creative thinking processes
Goal setting & life purpose
Accelerated learning techniques Communication skills

Interpersonal Skill(Keterampilan seseorang yang diperlukan dalam berhubungan dengan orang lain)

Relationship building
Motivation skills
Leadership skills
Self-marketing skills
Negotiation skills
Presentation skills
Public speaking skills

Perlu diingat bahwa karakter tidak bisa diajarkan seperti pelajaran biasa yang sifatnya pengembangan kognitif, tetapi ditularkan sebagiamana pendekatan soft skills ini, sesuatu yang akan ditularkan kepada siswa menghendaki seorang guru tertular terlebih dahulu. Layaknya seseorang yang menularkan penyakit flu, dapat dipastikan dirinya telah tertular terlebih dahulu, sebelum menular kepada orang lain. Menurut Sailah (2008), terdapat sedikitnya tiga cara penularan soft skills dalam pembelajaran, yaitu melalui:1) Lecturer role model, 2) Message of the week,dan 3) Hidden curriculum

Role model pendidik dapat diperlihatkan dengan saling edifikasi dengan teman sejawat di depan siswa. Edifikasi berasal dari kata to edify yaitu memberikan penghargaan sekaligus proposi bagi teman sejawat. Saling menjelekkan antar pendidik di depan siswa patut dihindari. Jangan sampai siswa menjadi tumpahan keluhan rasa kekesalan pendidik dengan menyalahkan orang lain. Sering-seringlah memberikan pujian kepada siswa di depan siswa lainnya jika mampu mencapai prestasi tertentu.

Penularan cara kedua dapat dilakukan dengan memberi pesan moral di setiap waktu tatap muka baik pada saat awal membuka pelajaran atau menutup pelajaran. Cara ini disebut Message of the week (MOW). Pesan yang disampaikan dapat berupa kata-kata mutiara dan cerita yang membangun moral dari berbagai sumber dengan pemaknaannya dalam berkehidupan, atau animasi yang mendukung dari web site internet.

Selain cara kedua di atas yaitu melalui hidden curriculum. ”Hidden Curriculum is the broader concept of which the informal curriculum is a part” Pelajaran dari kurikulum tersembunyi diajarkan secara implisit. Kurikulum tersembunyi lebih ampuh karena dapat membuat proses pembelajaran lebih menarik minat dan menyenangkan. Peran pendidik dalam hal ini adalah: membangun proses dialog, menangani dinamika kelompok, terlibat dengan motivasi siswa, mengintroduksikan berpikir kritis, memberdayakan kurikulum tersembunyi (Empowering Hidden Curriculum).

Dengan demikian, SDM dengan karakter yang kuat akan terbaentuk lewat keteladanan seorang guru, kekekuatan yang sebenarnya terletak pada nilai yang memberi makanabagi kehidupan.

Minggu, Januari 25, 2009

Mengenal Jejak Langkah


Mengenal Jejak Langkah

by Abihan (I Mawardi el-Razal)

Seraut wajah menyisahkan letih. Terasa hampa airmata menumpahkan asa
Hari-hari seperti elegi, menyimpan tanya di ketiak zaman
Adakah yang kau rasakan di tabir impianmu semusim yang kelabu
Ketika tawamu mencoba hadirkan kejujuran semesta, tak terbeli kerinduan bulan
Seperti pungguk yang selalu bertanya di soal yang sama sepanjang musim

Lukisan malam masih jelas tergambar di wajah bulanmu, bercerita tentang persenggamaan sunyi do’a-do’a
Untuk menabur harapan yang selalu baru
Padahal pagi belum menjadi sketsa dari bayang-bayang masa depan
Tetapi pagi pasti nan datang bercerita burung-burung kepodang
Di belantara rumah kehidupan

Yang terlihat sunyi... hati yang orgasme di tepian mimpi
Menyisahkan doa yang tertanggal di kebun nurani
Masihkah kau ragukan setiap benih yang kau semai semenjak pagi
Sebelum tidurmu menjadi hantu dengan logika-logika keraguan yang kau ciptakan sendiri
Berteman impian
Sesaat sebelum kau mengenal jejak langkah, aku telah kabarkan makna kecantikan itu bukan sekedar bunga atau suara kutilang menjelang senja
Adalah harmoni yang selalu mengisi hari-hari dari ketergantungan rasa
Untuk selalu ingin kembali kepada cinta sang maha cinta

Semoga tak perih walau wajahmu tak menampik kejujuran kataku
Sesakti harapan yang berselimut cahaya


Magelang, 27 Juni 2008

Imam Mawardi Rz

Selasa, Januari 06, 2009

Hari yang Bersahaja


Hari yang Bersahaja
Imam Mawardi Rz (Abihan)

Tepat di saat usiaku menapak waktu…, titik-titik hidup semakin membentuk pola yang tersusun dalam mekanisme perputaran waktu. Tanggung jawab kemanusiaan menunjukkan kedirian dimana target menjelma cita-cita, kadang seperti ambisi. Tetapi—mungkin terlewatkan— kesadaran untuk memberi arti adalah tujuan mengapa hidup ini harus dijalani.

Hidup adalah amanah yang harus dipenuhi sebagai prinsip taktertawarkan. Mengemban amanat dan memenuhinya meskipun sangat berat resikonya, merupakan kualitas hidup yang bermakna. Al-Maraghi, ketika menafsirkan ayat “Innallaha ya’murukum an tu’addu al-amanaati ila ahliha” (an-Nisa’:58), beliau mengemukakan bahwa terdapat bermacam bentuk amanah, yaitu: 1) amanah hamba terhadap Tuhannya, yakni sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga oleh manusia,yang berupa mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, serta menggunakan alat-alat potensialnya dan anggota badannya dalam bernagai aktivitas yang bisa mendatangkan manfaat baginya dan dapat medekatkan diri kepada Tuhannya sehingga bila manusia melanggarnya, maka berarti dia berkhianat kepada Tuhannya; 2) amanah hamba terhadap sesame manusia, yakni mengembalikan barang-barang titipan kepada pemiliknya dan tidak mau menipu, serta menjaga rahasia seseorang yang tidak pantas dipublikasikan; dan 3) amanah manusia terhadap dirinya, yakni berusaha melakukan hal-hal yang lebih baik dan lebih bermanfat bagi dirinya untuk kepentingan agama dan dunianya, tidak melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya, baik untuk kepentingan akhirat maupun dunianya serta berusaha menjaga dan memelihara kesehatan dirinya. (Al-Maraghi:1966, II:70).

Alangkah indahnya, apabila amanah mampu aku tunaikan. Memang, inilah cita-cita yang seharusnya aku tanamkan kepada diriku sendiri dan keluargaku. Istri adalah amanah, anak-anak, jabatan, dan seabrek bentuk tanggungjawab adalah amanah, bahkan hidupku sendiri adalah amanah. Sesuatu yang bermakna memang harus digali dari aplikasi amanah dengan kesadaran untuk mendapatkan gambaran hidup yang penuh damai, bukan hidup “instan” yang selalu merasa kurang dan ambisius untuk menghalalkan segala cara.
Sebagai catatan di hari yang bersejarah ini, saat doa’ aku tunaikan menggelayut di hampa waktu di kedalaman malam, aku sandarkan harapan untuk selalu bisa menjadikan hidup bermanfaat, sebagaimana Al-hayah (hidup) adalah al-harakah (bergerak,gerakan), dan al-harakah adalah al-barokah (beraktivitas yang mendatangkan berkah), dan al-barokah adalah al-ziyadah (nilai tambah dalam hidup), an-ni’mah (kenikmaatan atau kenyamanan hidup), dan al-sa’adah (kebahagiaan). Karena sesungguhnya, disinilah pandangan hidup akan menentukan makna, dan makna inilah semoga menjadikan bertambahnya usiaku menjadikan hari-hariku ke depan mampu aku jalani dengan sebaik-baiknya tahap demi tahap, selangkah demi selangkah menuju hakekat yang mampu kumanifestasikan dalam pengetahuan (kognitif), sikap hidup (afektif) dan ketrampilan hidup (psikomotor) yang harus bisa mendatangkan berkah, yakni nilai tambah, kenikmatan, dan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Selamat memapaki hari yang bersejarah di sudut 36. Semoga dengan berjalannya waktu di usiaku bertambahnya keberkahan. Semoga Allah swt meridhai selalu, amin.

Bandung, 6 Januari 2009
Imam Mawardi El-Razal (Abihan)