Senyuman kehidupan

Selasa, Maret 17, 2009

Kesiapan Guru untuk Mengajar dengan Model Desain Pembelajaran


Kesiapan Guru untuk Mengajar dengan Model Desain Pembelajaran
by Imam Mawardi Rz
muhammadiyah university of magelang

Kesiapan guru untuk mengajar berkaitan erat dengan cara guru mempersiapkan peserta didik untuk belajar. Kesiapan mengajar ini seperti petani mempersiapkan tanah untuk ditanami benih, jika dilakukan dengan benar, niscaya menciptakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan yang sehat. Demikian juga dalam mengajar, jika persiapan matang sesuai dengan karakteristik kebutuhan, materi, metode, pendekatan, lingkungan serta kemampuan guru, maka hasinya diasumsikan akan lebih optimal. (Susilana, et al. 2006: 96).

Oleh sebab itu, guru yang baik untuk saat ini tidak cukup untuk sekedar bersikap hangat dan menyayangi anak-anak, atau sekadar menerapkan praktik-praktik mengajar yang semata-mata didasarkan pada intuisi, preferensi pribadi atau kearifan konvensional (Arend, 2007). Tetapi lebih jauh untuk professional yang dimulai dengan kesiapan perencanaan sampai pada tahap evaluasi dengan berbagai kemampuan yang berhubungan dengan dunia pendidikan dan pengajaran. Karenanya, Nathaniel Gage, salah seorang peneliti pendiikan terkemuka di USA--sebagaimana dikutip Arend, 2007—mendefinisikan mengajar sebagai sebuah seni instrumental, yaitu mengajar adalah suatu yang berangkat dari “resep”, formula, atau algoritma. Ia membutuhkan improvisasi, spontanitas, penanganan sejumlah pertimbangan tentang bentuk, gaya, kecepatan, ritme, dan ketepatgunaan dengan cara yang begitu kompleks sehingga bahkan computer sekalipun tidak akan mampu melakukannya, seperti halnya mereka tidak mampu menyamai apa yang dilakukan oleh seorang ibu terhadap anaknya yang berusia lima tahun arau apa yang setiap saat diucapkan seorang kekasih kepada orang yang dicintainya.

Dalam hal kemampuan “kesiapan” guru untuk mengajar menjadi hal yang sangat penting, yaitu meliputi antara lain kemampuan:
a. Penguasaan bidang keilmuan yang menjadi kewenangannya
b. Kemampuan merancang program pembelajaran
c. Menyusun desain pembelajaran, terdiri: 1) tujuan, 2) materi, 3) metode, media dan sumber, 4) kegiatan belajar siswa, dan 5) evaluasi.

Dalam menyusun model desain pembelajaran seorang guru harus mendasarkan pada prinsip-prinsip pendidikan, teori-teori psikologis, sosiologis, psikiatri, analisis sistem, atau teori-teori lain. Joyce & Weil (1980) berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Di samping itu model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru dalam persiapan mengajar boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya.

Pada dasarnya, model desain pembelajaran merupakan pengelolaan dan pengembangan yang dilakukan terhadap komponen-komponen pembelajaran. Adapun beberapa model desain pembelajaran antara lain: Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional), Model Jerold E. Kemp, Model Gerlach and Ely, Model Glaser, Model Bella Banathy, Model Rogers, Model Pembelajaran Kontekstual (CTL), dll.
Adapun Aspek Desain Pembelajaran sebagaimana yang di tulis Wahono (2006) adalah sebagai berikut:

•Kejelasan tujuan pembelajaran (rumusan, realistis)
•Relevansi tujuan pembelajaran dengan SK/KD/Kurikulum
•Cakupan dan kedalaman tujuan pembelajaran
•Ketepatan penggunaan strategi pembelajaran
•Interaktivitas
•Pemberian motivasi belajar
•Kontekstualitas dan aktualitas
•Kelengkapan dan kualitas bahan bantuan belajar
•Kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran
•Kedalaman materi
•Kemudahan untuk dipahami
•Sistematis, runut, alur logika jelas
•Kejelasan uraian, pembahasan, contoh, simulasi, latihan
•Konsistensi evaluasi dengan tujuan pembelajaran
•Ketepatan dan ketetapan alat evaluasi
•Pemberian umpan balik terhadap hasil evaluasi

Model-model dan aspek-aspek desain pembelajaran tersebut pada hakekatnya dapat digunakan dan dikembangkan untuk kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh seorang guru. Hal yang terpenting di sini adalah bagaimana seorang guru dapat mengelola dan mengembangkan komponen-komponen pembelajaran itu dalam suatu desain yang terencana dengan memperhatikan kondisi actual dari unsure-unsur penunjang dalam implementasi pembelajaran yang akan dilakukan, misalnya: alokasi waktu yang tersedia, sarana dan prasarana pembelajaran, biaya, dan sebagainya.

Referensi:
Arend, R.I. (2007). Learning to Teach. edisi ke-7. New York: McGraw Hill Companies, Inc., 1221 Avenue of the Americas.
Susilana, R. et al. (2006). Kurikulum dan Pembelajaran. Ed. 2. Bandung: Jurusan kutekpen FIP UPI
Wahono, R.S. (2006). Aspek dan Kriteria Penilaian Media Pembelajaran.[Online]. Tersedia: http://romisatriawahono.net/2006/06/21/aspek-dan-kriteria-penilaian-media-pembelajaran/ [10 November 2008]

Implikasi perkembangan iptek dan informasi serta kebutuhan SDM terhadap pengembangan kurikulum dan pengajaran.

Implikasi perkembangan iptek dan informasi serta kebutuhan SDM terhadap pengembangan kurikulum dan pengajaran.

by Imam Mawardi Rz
muhammadiyah university of magelang

Perkembanagan IPTEK membawa pengaruh yang besar terhadap kehidupan social dan kebudayaan umat manusia, yang meliputi beberapa aspek antara lain komunikasi, transportasi, mekanisasi industri, pertanian dan persenjataan, termasuk di dalamnya adalah pendidikan.

Perkembangan IPTEK di samping banyak menimbulkan perubahan dalam nilai-nilai,--baik nilai social, budaya, spiritual, intelektual maupun material—juga menimbulkan kebutuhan baru, aspirasi baru dan sikap hidup baru (Sukmadinata, 2000). Hal-hal di atas menuntut perubahan pada sistem dan isi pendidikan yang diwujudkan dalam rekonstruksi kurikulum. Mengingat pendidikan bukan hanya mewariskan nilai-nilai dan hasil kebudayaan lama, tetapi juga mempersiapkan SDM unggul agar mampu hidup pada masa kini dan yang akan datang

Perkembangan IPTEK secara langsung maupun tidak langsung membawa pengaruh terhadap kurikulum pendidikan. Pengaruh langsung dari perkembangan ini adalah memberikan isi/materi atau bahan yang akan disampaikan dalam pendidikan. Sedang pengaruh tidak langsung dari perkembangan IPTEK ini menyebabkan perkembangan masyarakat, yang tentunya menimbulkan problema-problema baru yang menuntut pemecahan masalah dengan pengetahuan dan ketrampilan baru yang dikembangkan dalam pendidikan (Sukmadinata, 2000).

Oleh sebab itu, perlunya usaha-usaha yang terus menerus dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran agar selaras dengan perkembangan zaman. Usaha-usaha tersebut antara lain meliputi:
1.Perbaikan kurikulum secara terus menerus dapat di up date
2.Isi muatan kurikulum dapat memenuhi kebutuhan stake holders
3.Isu-isu global perkembangan kontemporer dan nilai-nilai kearifan potensi local menjadi basic pendekatan kurikulum
4.Pengembangan metode pengajaran yang bervariasi
5.Penggunaan multimedia dalam pembelajaran

Pandangan Filsafat kurikulum dan pengajaran terhadap perkembangan iptek dan informasi

Akibat pengaruh globalisasi yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, memberikan dampak tersendiri bagi kehidupan manusia, baik dampak yang positif maupun maupun yang negatif. Dampak yang positif salah satunya memberikan kemudahan bagi manusia memenuhi kebutuhannya secara cepat, efektif dan efisien di segala lini aktivitas kehidupan. Sebaliknya dampak negatifnya tak kurang banyak, termasuk di dalamnya sifat ketergantungan manusia olehn kemudahan fasilitas, di samping dampak-dampak lainnya yang berhubungan dengan kehidupan social.

Implikasi nyata dalam dunia pendidikan membawa pengaruh terhadap model pendidikan dimana tuntutan kurikulum dan pengajaran harus selalu up to date terus menerus, disesuaikan dengan perkembangan yang ada, agar hasil dari pengembangan kurikulum tidak ketinggalan zaman. Kenyataan seperti sebagaimana digambaarkan filsafat progresivisme yang memandang bahwa kemajuan yang telah dicapai oleh manusia dewasa ini karena kemampuan manusia dalam mengembangkanberbagai ilmu, baik ilmu-ilmu social, budaya, maupun ilmu pengetahuan alam (Barnadib, 1996). Ide-ide sentral pendidikan yang dikembangkan dalam progresivisme ini berkisar pada penerapan dari konsep-konsep rasionalitas, kebebasan dan kesamaan. Pendidikan adalah distribusi demokratis dan rasionalitas dengan perlakuan yang seimbang (kewajiban dan hak) antara kebebasan dan kesamaan pada subjek didik. Hal ini sebagaimana dikatakan Imam Barnadib (1996) bahwa menurut teori SDM, suasana pendidikan (kurikulum dan aspek-aspek pembelajaran) mengikuti konsep pendidikan yang berpusat pada siswa dan mengutamakan perhatiannya ke masa depan daripada masa lalu, yaitu tuntutan untuk survive mengikuti perkembangan zaman, terutamanya perkembangan informasi dan IPTEK.

Kamis, Februari 19, 2009

Pengembangan Diri

Pengembangan Diri
by Imam Mawardi

Pasca lulus pendidikan formal, bukan berarti berhenti dari aktifitas untuk mengikuti perkembangan dunia kontemporer. Pengembangan diri bisa dilakukan melalui lembaga-lembaga nonformal (kursus-kursus ketrampilan misalnya), atau bergabung dengan organisasi social kemasyatrakatan, karena dengan masuk organisasi ini akan terjadi transformasi ilmu pengetahuan secara tidak langsung melalui gesekan-gesekan pemikiran, aktivitas, dan solidaritas sosial. Di samping itu cepatnya perkembangan informasi dan ilmu pengetahuan dengan ditemukannya teknologi-teknologi canggi, tidak sulit lagi untuk mengakses berita dan perkembangan lain yang terjadi di seluruh dunia. Lewat jaringan ponsel, internet dengan berbagai fasilitasnya bisa berselancar di dunia maya.

Plus-minusnya perkembangan iptek harus disadari bisa mempengaruhi tradisi dan pola gaya hidup, yang bisa mendatangkan pengaruh baik di satu sisi, tetapi di sisi yang lain bisa mendatangkan pengaruh yang buruk, kejahatan, pornography, dan sebagainya. Oleh sebab itu pendidikan nilai (Aqidah & Akhlak) menjadi sangat penting dalam membekali anak/remaja memfilter pengaruh-pengaruh negatif .

Rencana Pengembangan Diri Guru
Mengadobsi pada National Education Association (NEA) pengembangan guru meliputi lima komponen pendidikan yaitu perencanaan, implementasi, personalia, isi program serta keanggotaan dalam profesi guru.

1.Perencanaan
•Tujuan program adalah menyiapkan guru trampil dan selalu mengikuti perkembangan kontemporer dan menghindari gagap teknologi
•Program disusun atas analisis kebutuhan menghadapi perkembangan mutakhir dan isu-isu global
•Perencanaan didasarkan atas pengetahuan perkembangan kontemporer tentang apa yang harus dilakukan guru di tengah peradaban global, baik untuk meningkatkan ketrampilan pengajaran maupun ketrampilan lain dari perkembangan IPTEK.
•Rencana program bersifat menyeluruh, berisi pemberian kesempatan pengembangan diri, penguasaan pengetahuan, dan ketrampilan yang esensial bagi pelaksanaan pengajaran yang efektif.

2.Implementasi
•Implementasi sejalan dengan tujuan dan rencana program
•Implementasi program berupa pelatihan-pelatihan, seminar-seminar dan workshop bagi guru tentang perkembangan isu-isu global
•Program menyediakan kesempatan yang cukup bagi guru untuk mempraktekkan apa yang mereka pelajari

3.Personalia
•Guru dan staf dievaluasi dengan criteria standar, dan penentuan kebijaksanaan personalia didasarkan atas hasil evaluasi

4.Isi program
•Pelatihan teknologi: pelatihan ICT, e-learning, mobile learning, dll
•Seminar isu-isu global: seminar MDGs, seminar global warming, seminar gender, seminar soft skills, seminar kurikulum masa depan, dll
•Workshop pembelajaran: pembelajaran berbasis IT, web pendidikan, metodologi pembelajaran, pemanfaatan media pembelajaran
•Pelatihan pengembangan diri: pelatihan kepemimpinan, pelatihan ESQ, pelatihan shalat khusuk, out bond training, dsb.

5.Keanggotaan profesi
•Organisasi profesi dan link lintas profesi
•Diskusi-diskusi membahas persoalan perkembangan mutakhir dan isu-isu global
•Penyediakan jurnal-jurnal penelitian, artikel-artikel tentang perkembangan kontemporer dunia pendidikan, ilmu pengetahuan dan social budaya.

Selasa, Februari 17, 2009

Pendidikan Karakter


Pendidikan Karakter
by Imam Mawardi

Pembentukan karakter merupakan bagian penting kinerja pendidikan. Karakter merupakan bentuk kepribadian yang melekat pada diri seseorang. Confusius – seorang filsuf terkenal Cina - menyatakan bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi mencintai kebajikan, namun bila potensi ini tidak diikuti dengan pendidikan dan sosialisasi setelah manusia dilahirkan, maka manusia dapat berubah menjadi binatang, bahkan lebih buruk lagi (Megawangi, 2003). Demikian juga, sebagaimana hadist Rosulullah saw, yang meyatakan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, karena kedua orangtuanyalah (baca: lingkungan) menjadikan anak itu yahudi, nasrani atau majusi (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa fitrah atau potensi tidak bisa dibiarkan begitu saja tapi perlu ditumbuhkan, sebagaimana benih yang baik, kalau ditanam ditanah yang subur dan dirawat (disiram dan dipupuk) dengan baik, maka benih itu akan tumbuh menjadi tanaman yang subur dan berbuah banyak. Demikian juga dengan karakter yang merupakan bagian dari potensi anak , harus dibina dan dididik dengan baik, biar menjadi anak yang shalih dan bermanfaat.

Permasalahannya: Bagaimana Mendidik Karakter?

Pembentukan karakter itu terjadi melalui dinamika pengajaran di kelas, bukan melalui seminar, sosialisasi, atau pelatihan dadakan. Diskursus tentang pembentukan karakter yang dipahami secara parsial bisa mebjadi sarana pelarian(eskapisme) guru dari tanggung jawab merekauntuk meningkatkan prestasi akademik siswa denagn cara member penekanan berlebihan pada unsur-unsur non akademis. Padahal keunggulan akademis adalah bagian dari pembentukan karakter itu sendiri. Tugas utama guru adalah mengembangkan ekselensi akademis dalam diri siswa. Mutu pendidikan kita kian menurun karena visi keunggulan akdemis ini diabaikan. Akibatnya, pembentukan karakter siswa juga terpinggirkan (Doni Koesoema A, Kompas, 17 Desember 2008).

Agar pendidikan karakter terjadi secara integral, guru perlu memahami kembali visi mengajarnya dan percaya bahwa mengembangkan keunggulan akademis adalah tugas utamanya sebagai pendidik. Dalam bahasa yang lain pendidikan karakter , akan membentuk ketrampilan halus (soft skills).

Pengembangan soft skills dalam pendidikan bertumpu pada pembinaan mentalitas karakter agar siswa dapat menyesuaikan diri dengan realitas kehidupan. Hasil penelitian mengungkapkan, kesuksesan seseorang hanya ditentukan sekitar 20 persen dengan hard skill dan sisanya 80 persen dengan soft skills. Proses pendidikan merupakan perubahan pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) dan sikap (afektif) seseorang, maka pendidikan seharusnya menghasilkan output dengan kemampuan yang proporsional antara hard skills dan soft skills. Selain karena kurikulum yang memiliki muatan soft skills yang rendah dibanding muatan hard skills, ketidakseimbangan antara soft skills dengan hard skills juga dapat disebabkan oleh proses pembelajaran yang menekankan pada perolehan nilai hasil ulangan maupun nilai hasil ujian. (Pramuji, 2008)

Aribowo dalam Sailah (2008), membagi soft skills atau people skills menjadi dua bagian, yaitu intrapersonal skills dan interpersonal skills. Dua jenis keterampilan tersebut dirinci sebagai berikut:

Intrapersonal Skill(Keterampilan seseorang dalam ”mengatur” diri sendiri)

Transforming Character
Transforming Beliefs
Change management
Stress management
Time management
Creative thinking processes
Goal setting & life purpose
Accelerated learning techniques Communication skills

Interpersonal Skill(Keterampilan seseorang yang diperlukan dalam berhubungan dengan orang lain)

Relationship building
Motivation skills
Leadership skills
Self-marketing skills
Negotiation skills
Presentation skills
Public speaking skills

Perlu diingat bahwa karakter tidak bisa diajarkan seperti pelajaran biasa yang sifatnya pengembangan kognitif, tetapi ditularkan sebagiamana pendekatan soft skills ini, sesuatu yang akan ditularkan kepada siswa menghendaki seorang guru tertular terlebih dahulu. Layaknya seseorang yang menularkan penyakit flu, dapat dipastikan dirinya telah tertular terlebih dahulu, sebelum menular kepada orang lain. Menurut Sailah (2008), terdapat sedikitnya tiga cara penularan soft skills dalam pembelajaran, yaitu melalui:1) Lecturer role model, 2) Message of the week,dan 3) Hidden curriculum

Role model pendidik dapat diperlihatkan dengan saling edifikasi dengan teman sejawat di depan siswa. Edifikasi berasal dari kata to edify yaitu memberikan penghargaan sekaligus proposi bagi teman sejawat. Saling menjelekkan antar pendidik di depan siswa patut dihindari. Jangan sampai siswa menjadi tumpahan keluhan rasa kekesalan pendidik dengan menyalahkan orang lain. Sering-seringlah memberikan pujian kepada siswa di depan siswa lainnya jika mampu mencapai prestasi tertentu.

Penularan cara kedua dapat dilakukan dengan memberi pesan moral di setiap waktu tatap muka baik pada saat awal membuka pelajaran atau menutup pelajaran. Cara ini disebut Message of the week (MOW). Pesan yang disampaikan dapat berupa kata-kata mutiara dan cerita yang membangun moral dari berbagai sumber dengan pemaknaannya dalam berkehidupan, atau animasi yang mendukung dari web site internet.

Selain cara kedua di atas yaitu melalui hidden curriculum. ”Hidden Curriculum is the broader concept of which the informal curriculum is a part” Pelajaran dari kurikulum tersembunyi diajarkan secara implisit. Kurikulum tersembunyi lebih ampuh karena dapat membuat proses pembelajaran lebih menarik minat dan menyenangkan. Peran pendidik dalam hal ini adalah: membangun proses dialog, menangani dinamika kelompok, terlibat dengan motivasi siswa, mengintroduksikan berpikir kritis, memberdayakan kurikulum tersembunyi (Empowering Hidden Curriculum).

Dengan demikian, SDM dengan karakter yang kuat akan terbaentuk lewat keteladanan seorang guru, kekekuatan yang sebenarnya terletak pada nilai yang memberi makanabagi kehidupan.