Senyuman kehidupan

Selasa, April 08, 2008

Peradun Abadi

oleh mawardy el-razal

aku kabarkan cahaya
sesaat kepergianmu istirah
di sanggar sunyi
kaulah yang membawa bintang, dan malam berlalu
sisa persenggamaan fikiranku
mengurai tradisi
seperti mimpi
tak sertakan tamsil berujung
apalagi tafsir bagi kidung semesta

masih saja daun-daun mengais embun
bercanda dengan logikamu
enta kapan aku mengerti
kecuali kau selimuti harapan
menggapai bintang

apa saja... masih tersisa nyanyian
hati yang membisu
menunggu di sini
tanpa kata

sudahlah.. yang terbaik
menunggu embun berselimut kabut
sekedar menanti atau menantang
peraduan abadi

Sabtu, April 05, 2008

Yang Terlahir.... Anakku "wedok" Matahariku

Oleh Imam Mawardi Rz

Jam Hp Fleksiku menunjukkan pukul 05.27 WIB, yang diyakini akurat karena sudah di setting otomatis standar satelit (katanya?). Pada hari Jum’at Pahing, tanggal 4 April 2008 bertepatan dengan tanggal 27 Robiul Awal 1429 H di pagi buta ba’da subuh sebelum mentari menampakkan jentera, tangis anakku menyeruakkan tanda kelahiranya… sesaat aku bertasbih dan bersyukur atas lahirnya putri ke-2 sang mahkota hidup… permata sekaligus intan.

Setelah perjuangan panjang 9 bulan lebih, apalagi detik-detik menjelang kelahirannya (hingga 4 jam). Begitu nafas… detak jantung….keringat dingin bercampur dengan rasa sakit tiada tara menyatu dengan tasbih alam tentang hakekat perempuan dan kesejatian pemilik rahim pagi itu dipertaruhkan. Menjadi ibu……

Adzan aku kumandangkan di telinga kanan dan iqamah di telingah kiri sang pendatang baru putri ke-2 ku, sekedar membuka cakrawala di lazuardi imani.
”Umi!” kataku kepada istriku ”Perjuangan panjang membawa rahim untuk sementara telah berakhir, tetapi misi dari bahasa rahim sendiri tidak pernah lepas dari kehidupan perempuan sejati. Karena rahim bukan sekedar tempat atau tali yang harus disambung dari ujung hingga ujung yang lain, tertapi bentuk kasih sayang adalah bahasa rahim tak mengenal batas ruang dan waktu. Tentunya harus menjelma dalam bahasa kehidupan ... adalah pendidikan itu sendiri”.

Putriku telah terlahir bersama peradaban yang selalu baru, menjemput impian masa depan, juga sebagai ibu meski alternatif ”seabreg” jabatan lain menjadi sekuel perjalanan hidup. Di sini.... dari sini..., Abi hanya berharap estafeta peran ibu, jangan sampai tergantikan dengan lainnya. Ibu—sampai kapan pun—adalah kurikulum yang membahasakan kehidupan tidak sekedar pengajaran tapi sekaligus pendidikan.
Sekarang... hari-hari menjadi baru, bertambahnya anggota keluarga menjadi kebahagiaan tersendiri, meski harus menyesuaikan sana-sini. Abi, Umi dan Hani (anak pertama 3 th) siap berbagi belajar pengalaman dengan keunikan karakteristik yang kami miliki.

Selamat datang di dunia baru putriku... dunia yang penuh tantangan dengan persoalan-persoalan di dalamnya. Abi tak akan pernah mengajarkan siapa pun untuk takut atau menghindar dari persoalan, tapi bagaimana sebaiknya berusaha untuk menghadapinya. Persoalan adalah tantangan dan ujian untuk menguatkan kepribadian mencapai tangga demi tangga sukses dalam kehidupan.
Abi dalam waktu dekat, akan mempersiapkan nama terbaik buatmu....

Kamis, April 03, 2008

Orkestra Pagi

Oleh Imam Mawardi Rz

... pagi masih berembun ketika Abi datang di kampus, satu jam kemudian embun-embun menghilang bersama kabut yang malu-malu menyapa matahari. Sejenak abi berdiri di tangga kampus lantai 2, nampak panorama merbabu-merapi bergandengan membentang dari ujung utara hingga selatan. Abi melukis dalam angan yang biru... membahasakan penciptaan semesta. Sesaat kemudian bertebaran salam para mahasiswa menyapa, mengikuti alunan dari kantor lagu ayat-ayat cinta.
Putriku..., yang kulukiskan adalah sebagian kecil dari pernik kehidupan keseharian Abi. Ingatlah saat menjelang subuh pagi tadi, dalam dingin yang berselimut kabut satu jam sebelum Abi kumandangkan adzan di masjid tempat waktu bersuah, kau membisu dalam tidur pulasmu... berselimut sajadah yang sengaja Abi taruh di tubuh mungilmu. Di sini yang perlu kau ingat nanti di saat kau sudah mengerti konsep akan makna syukur... niscaya kehidupan apa pun yang kau jalani adalah untaian mutiara yang terindah yang diberikan Allah, tanpa harus berkata mengapa... karena hidup adalah kepastian takdir yang selalu muncul di setiap ikhtiar.
Putriku..., tadi Abi melihat saat kau bangun agak malas-malasan, abi tersenyum melihatmu kau pun tersenyum menyambut pagi. Harapan harus kau sandarkan mengiringai irama pagi... seakan-akan hari selalu pagi, karena kita berfikir. Berfikirmu adalah merajut permainan-permainan dan gerak tubuh mengorkestrasikan tradisi anak-anak.

Selasa, April 01, 2008

Menanti Buah Hati

Menanti Buah Hati
oleh Umi_hany
...masih saja menegangkan, padahal ini yang kedua kalinya. HPL (hari perkiraan lahir) sang buah hati memang jatuh hari ini. Semalam diiringi gerimis, kaku rasa mengejang membingkai dua perasaan, harap dan cemas sang umi. Hari-hari terasa lambat dalam hitungan detak waktu... kapan sang buah hati terlahir dari rahim sunyi. Menanti dalam kepastian untuk mengeja setiap huruf di setiap fikiran, perasaan bahkan angan-angan yang menari-menari menjadi ayat-ayat tarbiyah. Sang buah hati... kerinduan umi, menatap mata mataharimu yang selama ini hanya berdialog sunyi, saat elusan membekas gerakan sensitif berbaur doa. Umi belajar menyentuh hakekat kewanitaan. Bersana mbak Hany (buah hati pertama, 3 th) dalam kelucuan masa peka dan kecerian hari-hari yang berganti, meladeni kerewelan sekaligus lompatan intelektual proses bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain di sekolah kehidupan, karena abi belum mampu menitipkan di play group, biarlah bersama umi dan calon adik selalu belajar, berdialog dan bercanda. Bukankah ini pendidikan yang sesungguhnya?. Kadar nilai kewanitaan adalah menikmati takdir memiliki rahim sebagai bahasa kasih sayang seorang umi seperti saya. Umi dalam detik-detik penentuan waktu... mengemban amanat panjang di sebuah perjuangan kehidupan.
Semoga buah hati yang telah terlahir ( Hany) dan yang akan terlahir (?) menjadi anak-anak peradaban yang salih, cerdas, santun dan bijaksana dalam menghadapi persoalan-persoalan yang pasti bermunculan. Inilah harapan umi.... harapan yang menyertai doa.
Semoga hari-hari adalah senyuman untuk menanti sang buah hati.