Senyuman kehidupan

Senin, Juli 07, 2008

Pergolakan Sosio-Politik di Magelang (sebuah Catatan Sejarah)



Pergolakan Sosio-Politik di Magelang (sebuah Catatan Sejarah)
Imam Mawardi Rz

Menurut M. Bambang Pranowo dalam 70 th Kaprawi Ridwan Jabatan untuk Umat (2002) bahwa tidak ada catatan yang jelas yang menunjukkan waktu tepat tentang masuknya Islam ke Magelang. Akan tetapi dari buku Raffles The History of Java kita dapat mencatat bahwa Pangeran Trenggana, Sultan ketiga Kerajaan Islam Demak yang meninggal pada tahun 1461, sebelum meninggal telah membagi kerajaan menjadi tiga bagian. Mas Timur, putra dari Adipati Pajang Pengging, diangkat menjadi adipati untuk daerah Kedu yang meliputi daerah Magelang saat ini dan Begelen (Raffles, 1966 b: 138). Dengan demikian kita dapat memperkirakan bahwa pada paruh kedua abad ke 15 Islam sudah tersebar di daerah Magelang. Dugaan ini didukung oleh fakta bahwa makam dari Sunan Geseng, salah satu murid dari Sunan Kalijaga, terletak di daerah ini. Yaitu disebuah pemakaman yang terletak antara Grabag dan Salatiga, kurang lebih 25 KM di sebelah barat daya kota Magelang (Santoso, 1970: 139-141; kumar, 1985: 21). Seperti dimaklumi Sunan Kalijaga salah satu wali yang paling terkenal diantara Wali Sanga (sembilan wali) yang menyebarkan Islam di Jawa pada paruh pertama abad ke-15.

Pada masa Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro (1825-1830), kota Magelang merupakan basis militer utama dari pihak Belanda, sementara daerah pegunungan di sebelah selatan dan barat Magelang adalah basis gerilya dari pasukan Pangeran Diponegoro. Perundingan antara Pemerintah Kolonial Belanda yang diwakili oleh Jendral de Kock dengan Pangeran Diponegoro diselenggarakan di kota ini. Namun sebagaimana sejarah mencatat sang pangeran bukannya diajak berunding melainkan begitu tiba Pangeran Diponegoro bersama pengawalnya ditahan dan kemudian dibuang ke Sulawesi (De Klerek, 1938:175). Sesudah sang pangeran ditangkap beberapa kyai pengikutnya antara lain kyai Badarudin, Kiai Kasan Besari dan Kiai Moderan; juga sisa-sisa pasukan yang dipimpin Basah Mentonegoro tetap melanjutkan perlawanan dengan melakukan Kraman (pemberontakan Sporadis) dengan menggunakan basis pegunungan disebelah barat dan selatan Magelang (Zuhri, 1987:276- 277). Hal ini menjelaskan mengapa sebelah selatan dan barat Magelang merupakan daerah santri yang kuat hingga saat ini; sementara daerah sebelah timur dimana jumlah kiai relatif sedikit hingga tiga dasawarsa lalu pengaruh budaya santri relatif masih lemah.

Secara geografis kantong utama santri meliputi desa-desa yang terletak di sebelah barat jalan raya menghubungkan Yogyakarta dengan Semarang lewat kota Magelang. Sedangkan desa-desa disebelah timur jalan raya, khususnya yang terletak dilereng gunung Merapi dan Merbabu, pada umumnya merupakan desa-desa Abangan.

Beberapa tahun setelah kemerdekaan, pada tahun 50-an di beberapa daerah meletus berbagai pemberontakan melawan pemerintah pusat. Salah satu diantaranya adalah Merapi Merbabu Compleks (MMC) yang bercorak komunis. Basis pemberontakan MMC adalah desa-desa di lereng Gunung Merapi dan Merbabu. Pada periode yang sama daerah sebelah barat Magelang merupakan basis partai Masyumi. Pada tahun 1952 Nadhlatul Ulama (NU), salah satu komponen utama Masyumi, memisahkan diri dari Masyumi dan menjadi partai politik tersendiri. Sebagian besar pendukung Masyumi di daerah Magelang beralih ke NU. Pendukung Masyumi cenderung diasosiasikan dengan Darul Islam (DI), pemberontakan yang berpusat di Jawa Barat. Jalan raya yang menghubungkan Yogyakarta dengan Semarang menjadi semacam garis demarkasi antara daerah pengaruh MMC di sebelah timur dan daerah pengaruh DI di sebelah barat. Kondisi tersebut memunculkan sebutan wong wetan ndalan (orang di sebelah timur jalan) dan wong kulon ndalan (orang di sebelah barat jalan). Wong wetan ndalan diasosiasikan dengan pendukung MMC, sebaliknya wong kulon ndalan diasosiasikan dengan DI.

Hingga meletusnya pemberontakan G 30 S PKI di tahun 1965 sebutan tersebut masih sering diterapkan. Wong wetan ndalan, diasosiasikan sebagai pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Nasional Indonesia (PNI). Sedangkan wong kulon ndalan diasosiasikan sebagai pendukung NU. Lantaran bendera PKI dan PNI berwarna merah, sedangkan bendera Masyumi maupun NU berwarna hijau, maka daerah di sebelah timur jalan raya dikenal sebagai daerah merah, sementara daerah di sebelah barat jalan raya di kenal sebagai daerah ijo (hijau).

Perlu diketahui pula bahwa kota kecil Muntilan yang sejak awal abad ke-20 telah menjadi pusat penyebaran agama Katolik di Jawa. Jauh sebelum pemerintah membangun Sekolah Dasar Negeri yang pada awal tahun 50-an disebut Sekolah Rakyat, pihak Missi Katolik telah lebih dahulu membangun Sekolah Rakyat Kanisius di beberapa desa di sekitar Muntilan. Salah satu diantara yang tertua terletak di dusun Tumpang Muntilan Magelang.

2 komentar:

ciwir mengatakan...

wah baru tahu nicj...
makasih informasinya pak Razal...
salam kenal, saya di magelang juga pak...

Anonim mengatakan...

Ma'af saya kok sedikit bingung dengan letak kota Grabag yang dikatakan terletak di sebelah barat daya kota Magelang, padahal kalau dilihat dari peta kota Grabag terletak disisi Utara sedikit ke timur dari kota Magelang, atau ini hanya untuk mendukung sebelah barat jalan /kulon ndalan sebagai basis Islam?. Dan kalau tidak salah disebelah timur / sebelah barat lereng merbabu terdapat pesantren NU yang besar.
Mohon pencerahan